Jumat, 24 Desember 2010

Jumat, 24 Desember 2010

MENJAGA DIRI
Pada suatu hari Yazid bin Mu’awiyah melihat seorang wanita cantik di
pagar, ia terpesona dan jatuh cinta pada wanita itu, wanita itu adalah istri
Adiy bin Hatim, dia memang memiliki kecantikan yang sempurna, namanya
Ummu Khalid. Disebabkan rasa cintanya pada wanita itu, sampai-sampai
Yazid jatuh sakit. Ia terus-menerus berada di atas pembaringan, maka orangorang
berdatangan menjenguknya, tanpa mengetahui penyakit apa
sebenarnya yang diderita Yazid, sementara Yazid pun tidak membuka
rahasianya. Tiba-tiba Amr bin Ash berkata, “Sakitnya ini tidak akan sembuh
kecuali melalui ibunya, maka biarkan ia berdua saja dengan ibunya, agar
ibunya sendiri yang menanyakan keadaan sakitnya.” Maka orang-orang pun
meminta agar ibu Yazid berbicara empat mata dengan anaknya untuk
menanyakan keadaanya, dan si ibupun bersedia. Si ibu terus-menerus
menanyai Yazid sampai ia mau membuka rahasianya. Ketika Yazid telah
menceritakan rahasianya, maka oleh ibunya diceritakanlah perihal anaknya
pada ayah Yazid yakni Mu’awiyah. Lalu Mu’awiyah berkata pada Amr bin
Ash, “Bagaimana caranya agar Yazid sembuh?” Amr bin Ash berkata,
“Kirimlah suami wanita itu harta dan hadiah agar ia mau datang dari
Madinah ke Damaskus.” Mu’awiyah segera melaksanakan apa yang
disarankan Amr bin Ash, sehingga suami wanita itu yakni Adiy bin Hatim
berkenan datang ke Damaskus. Ketika Adiy menghadap Mu’awiyah, maka
Mu’awiyah memberinya hadiah dan harta benda. Setelah Adiy bin Hatim
keluar dari istana, Mu’awiyah bertanya lagi pada Amr bin Ash, “Bagaimana
langkah selanjutnya?” Amr bin Ash menjawab, “Apabila ia datang lagi besok
tanyalah, ‘Apakah kamu mempunyai istri?’ Apabila ia menjawab ‘Ya’, maka
tamparlah wajahmu dan jangan berkata-kata lagi.” Keesokan harinya Adiy
bin Hatim menghadap lagi pada Mu’awiyah. Maka Mu’awiyah pun
melakukan seperti apa yang dikatakan oleh Amr bin Ash kemarin. Kemudian
Adiy keluar, tatkala ia keluar dari istana, ia bertemu dengan Amr bin Ash.
Adiy menanyakan pada Amr bin Ash tentang apa yang dilakukan Khalifah.
Amr bin Ash menjelaskan bahwa Khalifah Mu’awiyah sedang susah, Amr
bin Ash berkata, “Wahai Adiy, sesungguhnya Khalifah ingin menikahkanmu
dengan putrinya dan memberimu harta yang banyak, tetapi seperti yang
kamu tahu bahwa anak raja tidak boleh dimadu. “Lalu aku harus
bagaimana?” tanya Adiy. Amr bin Ash menjawab, “Apabila besok kamu
menghadap khalifah lagi dan ia menanyakan hal yang sama padamu, maka
katakan padanya bahwa kamu tidak mempunyai istri.” Esoknya, ketika Adiy
menghadap, Mu’awiyah bertanya, “Apakah kamu punya istri?” “Tidak”
jawab Adiy. Mu’awiyah meminta lagi, “Katakana, ‘Apabila aku memiliki
istri, maka istriku tersebut tertalak ba’in’.” Adiy pun mengatakan seperti
yang diperintahkan Mu’awiyah. Lalu Mu’awiyah berkata pada sekretarisnya,
“Catatlah apa yang dikatakan Adiy!” Maka iapun mencatatnya. Setelah
Ummu Khalid menyelesaikan mesa iddahnya, Mu’awiyah menemui Abu
Hurairah dan memberinya hadiah harta yang banyak, dan Mu’awiyah
mengutus Abu Hurairah agar datang ke Madinah untuk melamar Ummu
Khalid. Ketika Abu Hurairah memasuki kota Madinah, ia bertemu dengan
Abdullah bin Umar. Abdullah bin Umar bertanya tentang maksud
kedatangannya ke Madinah, dan ia pun menceritakanya. Lalu Abdullah
berkata, “Maukah engkau menyebutku di hadapan wanita itu?” “Ya”, jawab
Abu Hurairah. Lalu Abu Hurairah bertemu dengan Abdullah bin Zubair, ia
bertanya pada Abu Hurairah tentang maksud kedatangannya ke Madinah,
dan Abu Hurairah pun menceritakanya. Lalu Abdullah berkata, “Maukah
engkau menyebutku di hadapan wanita itu?” “Ya”, jawab Abu Hurairah.
Kemudian Abu Hurairah bertemu dengan Husain bin Ali, dan ia pun
menanyakan dan mengatakan seperti yang dikatakan Abdullah bin Umar.
Ketika Abu Hurairah memasuki rumah Ummu Khalid, ia mengatakan bahwa
suaminya telah pasti menceraikanya, dan bahwasanya Mu’awiyah mengutus
dirinya untuk melamar Ummu Khalid untuk putranya, yaitu Yazid. Abu
Hurairah berkata pada Ummu Khalid, “Sesungguhnya yang melamarmu
bukan hanya Yazid akan tetapi Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan
Husain bin Ali juga melamarmu.” “Ceritakan padaku mengenai keadaan
mereka!” kata Ummu khalid. Lalu Abu hurairah bercerita, “Yang satu,
berharta tapi agamanya kurang, yaitu Yazid bin Mu’awiyah; yang dua orang,
berharta dan agamanya kuat mereka adalah Abdullah bin Umar dan Abdullah
bin Zubair; dn yang satunya lagi, agamanya kuat tapi tak berharta dialah
Husain bin Ali.” “Nikahkanlah aku dengan yang kamu kehendaki”, jawab
Ummu Khalid. “Semua terserah padamu”, sahut Abu Hurairah menimpali.
Ummu Khalid berkata, “Jikalau kamu tidak datang padaku, tentu aku akan
mengutus seseorang untuk bermusyawarah denganmu, tapi bagaimana, kamu
sendiri telah diutus.” Abu Hurairah berkata, “Baiklah kalau begitu, demi
Allah aku akan mengajukan orang yang pernah dicium Rasulullah saw., yaitu
Husain.” Lalu Abu Hurairah menikahkan Ummu Khalid dengan Husain bin
Ali dan hadiah harta benda dari Mu’awiyah ia berikan pada Husain bin Ali.
Kemudian Abu Hurairah pulang ke hadapan Mu’awiyah dan menceritakan
kisahnya. “Kamu telah menggunakan hartaku untuk orang, lain”, kata
Mu’awiyah. “Sesungguhnya kamu tidak mewarisinya dari leluhurmu, tetapi
sebenarnya itu harta Allah dan Rasul-Nya, karenanya aku telah memberikannya
kepada keturunanya”, jawab Abu Hurairah.
Ketika Adiy bin Hatim gagal mempersunting putri Khalifah Mu’aiyah,
maka ia kembali ke Madinah dan mendampingi Husain bin Ali. Sambil
menarik nafas panjang, Husain berkata, “Apakah kamu teringat Ummu
Khalid?” “Ya”, jawab Adiy. Lalu Husain memanggil Ummu Khalid dan
berkata, “Bolehkah aku menyentuhmu?” “Tidak”, jawab Ummu Khalid.
“Kalau begitu kamu aku ceraikan, dan menikahlah dengan Adiy. Ketahuilah,
sesungguhnya aku tidak mempunyai maksud apapun, semua ini aku lakukan
semata-mata karena aku kasihan padamu Adiy.” Oleh sebab itu, disebutkan
dalam sebuah sya’ir:
Wahai Ummu Khalid
Berilah aku kesenangan
Sedikit sekali orang berjalan
Mendatangi orang yang, duduk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar