Sabtu, 25 Desember 2010

Sabtu, 25 Desember 2010

KISAH NABI ADAM
Kemudian diciptakan Allah pula ADAM sebagai manusia yang pertama, untuk menghuni bumi luas yang sudah terbentang, beranak dan berketurunan menjadi manusia banyak, berserak ke seluruh pelosok bumi.
Maksudnya manusia itu diciptakan Allah, ialah agar manusia itu menyembah dan sentiasa mentaati segala perintahNya serta juga menjadi pengatur bumi yang tidak teratur; bercocok tanam, mendirikan rumah, memelihara ternak, dan sebagainya.
Allah memberitahu maksudNya kepada para Malaikat, "Aku ingin menciptakan manusia untuk mengurus muka bumi".
Para Malaikat lalu menjawab, "Apakah manusia yang Engkau ciptakan itu untuk mengurus bumi, ya Tuhan kami? Tidakkah manusia itu nanti akan merusakkan bumi dan akan terjadi pertumpahan darah saling membunuh? Berbanding dengan kami yang sentiasa patuh dan memuliakan Engkau".
Lalu Allah menjawab. "Aku lebih mengetahui apa yang kamu tidak mengetahui".
Ya, Tuhanlah yang lebih tahu rahasia apa yang terkandung dari kejadian manusia ini. Tuhanlah yang lebih tahu kenapa kita manusia yang diciptakan Tuhan untuk mengatur bumi, sekalipun Tuhan tentu sudah tahu pula, bahwa manusia di permukaan bumi ini akan berbuat kerusakan, akan saling berperang, akan berbunuh bunuhan menumpahkan darah.
Tetapi janganlah sampai kita lupakan, bahawa Tuhan juga tahu, bahwa tidak semuanya manusia itu perusak, tidak semua manusia suka bersengketa dan saling membunuh. Di antara manusia yang banyak itu, ada banyak pula yang baik, yang selalu berbuat kebaikan terhadap sesama manusia, selalu berusaha dan berjuang untuk keselamatan dan kebahagiaan hidup manusia.
Setelah mendengar jawaban Allah yang pendek, tetapi mempunyai arti dan maksud yang amat dalam itu, semua Malaikat menjadi diam, tidak menjawab lagi. Hanya berkata dengan berbisik antara sesama mereka: "Memang benar! Tuhan kita Maha Mengetahui segala sesuatu, dari perkara yang sekecil kecilnya sampai pada perkara yang sebesar besarnya. Ia mengetahui segala yang lahir dan yang bathin, yang kelihatan oleh mata dan yang tidak kelihatan. Tidak ada satu perkara dan kejadian yang bagaimana juga kecilnya yang terjadi di langit dan di bumi atau antara keduanya yang tak diketahui oleh-Nya."
Apa saja yang Allah ciptakan, tentu ada guna dan faedahnya, tentu ada maksud dan tujuannya. Tidak satu benda pun yang diciptakan Allah akan sia sia. Hanya kita sendiri yang tidak atau belum mengetahuinya.
Allah meneruskan firmanNya terhadap para Malaikat itu: "Manusia itu, yaitu Adam, akan Aku ciptakan dari tanah. Apabila sudah terbentuk dan selesai, akan Aku hembuskan kepadanya rohKu, agar dia menjadi hidup, dapat bergerak, berperasaan, berpengertian dan berkesadaran. Bila Adam sudah menjadi hidup dengan pengertian dan kesadaran, hendaknya kamu sekalian sujud memberi hormat kepadanya."

Malaikat adalah suatu makhluk Allah yang mempunyai kesedaran yang amat tinggi. Dengan kesedaran yang amat tinggi itu, mereka menjadi makhluk yang mulia, selalu bertasbih dan beribadah mensucikan, membesarkan dan memuji muji Allah, selalu taat menjalankan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka. Mereka tak pernah derhaka atau melanggar perintah Allah, tanpa makan dan minum, tanpa istirahat atau tidur, mereka selalu melaksanakan segala macam tugas yang di bebankan Allah atas mereka masing masing sampai hari kiamat.
Bila mereka itu makhluk yang tinggi dan mulia, mengapa Allah memerintahkan mereka untuk sujud atau menghormati Adam? Apakah Adam atau manusia lebih tinggi dan lebih mulia daripada Malaikat?
Pertama kita harus ingat, bahwa Allah memerintahkan Malaikat sujud kepada Adam, bukanlah dalam arti menyembah, melainkan dengan arti menghormati. Menghormati Adam tidak dapat diartikan menghormati manusia anak cucu Adam. Jadi penghormatan ini khusus terhadap pribadi Adam.
Mengapa pribadi Adam harus dihormati oleh para Malaikat? Hal ini disebabkan oleh karena pribadi Adam mempunyai keistimewaan yang banyak sekali dan luarbiasa, yang tidak dipunyai oleh manusia manusia lain atau makhluk yang mana pun juga. Keistimewaan keistimewaan yang luar biasa itu adalah sebagai berikut:
Adam adalah manusia pertama. Sebelum Adam, belum ada manusia. Seluruh manusia selain Adam, semuanya adalah keturunan Adam. Di antara manusia keturunan Adam itu, ada yang menjadi Nabi dan Rasul, menjadi orang orang suci. Diantaranya ada orang pandai dalam berbagai bidang, yang menyebabkan kemajuan hebat bagi manusia dari abad ke abad. Lihatlah kemajuan anak cucu Adam yang hidup sekarang ini.
Sekalipun ada pula diantara anak cucu Adam sendiri yang menjadi perusak dan berbuat kejahatan. Sebab itu, memang sudah sepatutnya kalau para Malaikat memberikan penghormatan atau sujud kepada Adam sebagai manusia pertama dan mempunyai turunan yang hebat itu.
Adam diciptakan sendiri olehNya. Sedangkan makhluk lain, seluruhnya diciptakan Allah dengan perkataanNya: "Bila Allah menghendaki sesuatu, Ia hanya berfirman: Jadilah! Maka jadilah apa yang dikehendaki Allah itu." Hanya Adam, yang Allah ciptakan dengan kedua tanganNya. Demikianlah menurut al-Quran. Sedang menurut Hadis, selain Adam, juga 'Arasy dan Syurga yang diciptakan Allah dengan tanganNya. Maka sudah sepatutnya kalau para Malaikat diperintahkan Allah untuk menghormati Adam. Karena ia diciptakan Allah dengan tanganNya, Adam sungguh suatu makhluk yang terhormat tiada taranya dialam ini.
Selain manusia pertama yang diciptakan Allah dengan tanganNya, Adam adalah seorang Nabi, seorang yang mendapat wahyu dari Allah. Menurut sebagian Ulama, para Nabi dan Rasul memang sama darjat kemuliaannya dengan para Malaikat. Bahkan ada diantara Ulama yang berpendapat bahwa Nabi dan Rasul itu derajat dan kemuliaannya melebihi para Malaikat, sebab Jibril sebagai Malaikat tertinggi, ditugaskan pula menjadi perantara antara Allah dengan para Nabi dan Rasul itu.
Seperti halnya dengan para Malaikat, maka Adam pun mempunyai kesadaran dan pengertian (akal), sehingga Adam dan keturunannya dapat menyadari dan mengerti akan kebesaran Allah yang menciptakan dirinya dan seluruh alam, dapat menyadari dan mengerti akan perintah perintah dan larangan Allah.
Adam dan manusia diciptakan Allah dalam sebaik baiknya kejadian, karena dia terdiri dari jasmani dan rohani (roh, akal, hati dan nafsu), sehingga ia menjadi suatu makhluk yang beradab dan berkebudayaan, terus maju dan tidak beku.
Adam dan keturunannya diciptakan Allah untuk menjadi Khalifah (penguasa atau pengatur) dibumi, sebagaimana Allah menciptakan para Malaikat sebagai Khalifah di langit.
Karena menyadari akan kedudukan dan kemuliaan Adam, para Malaikat dapat mengerti akan perintah Allah untuk menghormati Adam. Mereka lalu menjawab: "Baiklah, ya Tuhan kami. Kami dengar dan kami taati segala perintahMu." Allah lalu menciptakan Adam dari tanah dengan tanganNya sendiri. Berbentuk seperti bentuk kita manusia sekarang ini. Yaitu berkepala, berbadan, bertangan dan berkaki. Lalu Allah hembuskan roh kepadanya, sehingga Adam menjadi hidup.
Adam menggerakkan kedua tangan dan kakinya, lalu ia bersin (batuk), sehingga bergerak sekujur badannya, terbuka kedua matanya, bergerak jantung dan paru parunya. Sekaligus ketika Adam membuka kedua matanya, melihat seluruh alam di sekitarnya, timbullah pengertian dan kesadaran, dan dengan pengertian dan kesadaran itu, dia mengucap: Alhamdulillahi Rabbil Alamin (Segala pujian bagi Allah yang mengatur seluruh alam). Para Malaikat kagum sekagum kagumnya melihat dan mendengar ucapan pertama yang keluar dari mulut Adam. Satu ucapan yang berisi pengertian dan kesadaran tertinggi. Pengertian dan kesadaran bahwa alam ini seluruhnya diciptakan dan diatur oleh Allah, sebab itu Allah selamanya harus selalu disanjung dan dipuji.
Para Malaikat serentak menjawab ucapan Adam: "Yarhamukallahu, ya Adam." Artinya: Allah selalu menumpahkan rahmatNya kepada engkau, ya Adam, dan selamatlah.
Para Malaikat lalu beratur mengelilingi Adam, lalu sujud dan menghormati kepada Adam, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka. Hanya Iblis yang tak mau sujud dan tidak mau menghormati Adam. Dia tetap berdiri dan membangkang dengan sombongnya, tidak mau menjalankan apa yang diperintahkan Allah.
Allah lalu berkata kepada Iblis itu: "Bukankah engkau juga makhluk ciptaanKu, yang juga harus tunduk dan menjalankan perintahKu? Tetapi kenapa engkau tidak sujud dan tidak memberi hormat terhadap Adam sebagaimana Aku perintahkan?"
Iblis menjawab: "Engkau ciptakan aku dari api dan Adam dari tanah. Api lebih mulia dari tanah. Itu berarti aku lebih mulia dari Adam. Maka tidak sepatutnyalah aku sujud dan hormat terhadap Adam itu."
Mendengar bantahan Iblis itu, Tuhan menjadi marah, lalu berkata kepada Iblis: "Tempat ini (Syurga) bukan tempat orang yang menyanggah terhadap Aku. Sekarang juga, engkau harus keluar dari sini."
Sesudah keluar dan terusir dari Syurga, Iblis kembali menyanggah dan berkata kepada Allah: "Ya, Tuhan! Engkau usir aku dari Syurga ini kerana Adam. Aku bersumpah, bahwa aku dengan semua anak keturunanku akan memusuhi Adam dan semua anak dan keturunannya untuk selama lamanya. Mereka akan aku sesatkan. Mereka akan aku celakakan. Aku akan ajak dan anjurkan kepada mereka untuk berbuat keburukan dan kerusakan didalam dunia ini nanti, agar kehidupan mereka selamanya susah dan kacau."
Mendengar ancaman Iblis itu, Allah lalu berkata: "Untuk menghindarkan tipu daya mu itu, kepada manusia akan Aku beri suatu senjata yang ampuh, ialah akal. Akal itu akan Aku bimbing dengan petunjuk petunjuk (agama), Manusia yang tetap mempergunakan akal dan menurut petunjuk petunjukKu tidak akan dapat engkau sesatkan dan diperdayakan. Dengan akal itu, mereka akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk. Dengan tuntunan petunjukKu, akal mereka akan mempunyai daya berfikir yang benar. Barangsiapa yang tak menggunakan akal dan tidak menurut petunjukKu, tentu dapat engkau goda dan engkau sesatkan. Ini akan dipertanggung jawabkan di hadapanKu nanti kemudian hari (Akhirat). Mendengar keterangan Allah itu, Iblis terdiam. Tetapi hatinya makin mendongkol, irihati dan dengkinya terhadap manusia bertambah memuncak.
Dia berpaling kepada Adam. Mata dan seluruh perhatiannya sekarang ini ditujukannya kepada Adam. Dia ingin tahu di mana letak kelemahan kelemahan jasmani dan rohani manusia. Adam dipelajarinya dari segala segi. Akhirnya Iblis berkesimpulan bahwa manusia itu selain mempunyai kekuatan berfikir, yaitu akal yang sangat hebat itu, juga mempunyai banyak kelemahan kelemahannya. Disamping akal itu, manusia mempunyai nafsu. Dan nafsu itu banyak sekali macam ragamnya. Ada nafsu terhadap makanan dan minuman, ada nafsu kelamin atau syahwat, ada nafsu terhadap harta benda dan kekayaan, terhadap rumah tempat tinggal dan kendaraan dan ada pula nafsu terhadap pangkat dan kedudukan yang tinggi di tengah tengah sesama manusia. Ditiap tiap macam nafsu, ta'biat dan karakter, terdapat banyak sekali pintu pintu atau lubang lubang kelemahan dan setiap waktu dapat dimasuki oleh Iblis untuk memperdayakan dan mengacaukan kehidupan manusia
Setelah melihat semua kelemahan itu, Iblis ketawa kecut. Dia ketawa dan gembira, karena berhasil melihat kelemahan manusia. Tetapi hatinya menjadi kecut dan takut, bahwa manusia disamping mempunyai kekuatan yang hebat, yaitu akal, juga dengan akal itu dapat menerima petunjuk petunjuk Tuhan. Petunjuk Allah itu adalah merupakan satu benteng berlapis baja yang tidak mungkin dapat ditembus oleh Setan dan Iblis.
Iblis dari semula mengakui akan kelemahan dirinya menghadapi manusia yang sadar dan iman yang kuat berbentengkan petunjuk Allah dalam hidupnya. Bahkan kalau kita manusia mengerti dan sadar pula akan kelemahan Iblis dan kekuatan rahasia dari keimanan yang penuh terhadap Allah dan petunjuk petunjuk Allah, manusia akan selamat dalam kehidupan dunia dan akhiratnya dan akan terhindar dari tipu muslihat Iblis atau kesesatan dalam hidup.
Iblis adalah satu kekuatan ghaib yang dapat disamakan dengan gelap. Sedang keimanan terhadap Allah dan petunjuk petunjuk Ilahi adalah satu kekuatan ghaib yang dapat disamakan dengan terang atau cahaya. Bila suatu tempat tidak dimasuki oleh cahaya, pasti tempat itu diisi oleh gelap. Bila tempat yang gelap itu dimasuki cahaya, pasti gelapnya lenyap. Begitu pulalah manusia sebagai tempat. Bila dia kosong dari keimanan dan petunjuk Ilahi, akan merajalelalah Setan dan Iblis atas dirinya. Tetapi bila manusia mempunyai keimanan di dada dan selalu disiram dengan petunjuk petunjuk Ilahi, segala tipu daya Iblis tak mampu memperdayakan.
Kepada Adam diajarkan Tuhan pengetahuan pokok untuk dapat hidup di permukaan bumi. Allah mengajarkan kepada Adam nama dari tiap sesuatu.
Untuk sekadar membuktikan kepada para Malaikat, bahawa manusia layak menjadi Khalifah dibumi, dan patut mendapat penghormatan dari Malaikat, Allah lalu memanggil Adam dan Malaikat supaya berkumpul.
Kepada Malaikat Allah lalu berfirman: "Coba kamu sebutkan nama dari tiap tiap sesuatu yang terdapat di permukaan bumi itu, sekiranya kamu mengetahuinya."
Dengan merendahkan diri serendah rendahnya, Malaikat menjawab: "Maha Suci Engkau, ya Tuhan kami! Kami tidak mengetahui nama nama dari semua itu. Pengetahuan kami hanya sekadar apa yang Engkau ajarkan kepada kami. Hanya Engkau saja, ya Allah, yang mengetahui segala galanya."
Allah lalu berkata kepada Adam: "Hai, Adam! Sekarang coba engkau sebutkan nama dari benda benda itu semuanya!"
Dengan segera Adam menyebutkan nama dari tiap tiap benda yang dihadapkan Allah kepadanya, di hadapan semua Malaikat.
Kemudian itu Allah lalu berfirman kepada Malaikat: "Bukankah Aku sudah katakan kepada kamu sekalian, bahawa Aku mengetahui apa yang kamu tidak mengetahui, tentang rahasia rahasia langit dan bumi, Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan."
Buat Adam diberi Allah tempat di dalam Syurga. Makanan dan minuman tersedia serba cukup. Begitu juga apa saja yang ia inginkan. Tetapi sayang, Adam tinggal di Syurga itu seorang diri, sebatang kara. Tempat yang sebagaimana bagusnya, makanan dan minuman yang bagaimana juga lazatnya tidaklah memberikan kepuasan dan kebahagiaan yang sempurna. Manusia memerlukan teman, sekalipun hanya seorang, dengan siapa dia dapat mengemukakan suka dan dukanya, atau kasih dan sayangnya. Teman inilah yang tak dipunyai oleh Adam, sekalipun dia sudah mempunyai Syurga dengan segala kesenangannya. Sebab itu hidupnya selalu dalam kesepian.
Allah tahu akan penderitaan yang berupa kesepian yang di derita oleh Adam di dalam Syurga itu. Dan Allah kasihan melihatnya. Oleh karena itu Allah akan menciptakan makhluk baru yang sama dengan Adam, tetapi jenis wanita, untuk menyempurnakan segala kekurangan dan kesepian dalam hidup Adam, untuk menjadi isterinya. Dengan tujuan yang lebih tinggi, ialah untuk meramaikan permukaan bumi, untuk membuat sejarah kebudayaan yang lebih menarik.
Sejurus kemudian, Adam mengantuk, lalu tertidur. Di kala ia tertidur itulah, Allah s.w.t. menciptakan manusia kedua, jenis wanita, isteri Adam yang bernama Hawa. Setelah Adam terbangun dan membuka kedua matanya, dia melihat seseorang berdiri di samping, orang yang belum pernah dilihat Adam sebelumnya. Orang itu dipersilakan Adam duduk di sampingnya, dan kepadanya Adam lalu bertanya: "Siapakah engkau, dan siapa namamu?" Hawa menjawab: "Saya adalah wanita, dan aku belum tahu akan namaku sendiri." Bukan main senang dan gembiranya Adam melihat wanita itu berkata dan menggerak gerakkan badannya.
"Engkau aku beri nama Hawa artinya: Orang yang aku rindukan," kata Adam kepadanya.
Para Malaikat datang dan bertanya kepada Adam: "Siapakah nama temanmu itu, ya Adam?"
"Namanya Hawa," sahut Adam.
Dengan istrinya yang bernama Hawa ini hilanglah kesepian dalam hidup Adam. Keduanya hidup berbahagia di dalam Syurga, aman dan tenteram, tak kenal takut dan lelah, makan-minum sepuas puasnya, kerana segala galanya tersedia serba berkecukupan.
Allah lalu berfirman kepada Adam: "Hai, Adam! Tinggallah engkau dengan isterimu di dalam Syurga ini. Makan dan minumlah sepuas puasnya. Tetapi awas, janganlah engkau berdua memakan buah dari pohon ini. Bila engkau berdua memakannya, berarti engkau berdua melanggar perintahKu, dan engkau berdua akan mengalami kerugian besar, dan berarti aniaya terhadap dirimu sendiri."
Selain buah Khuldi itu, di dalam Syurga terdapat banyak dan bermacam ragam buah buahan. Semuanya boleh dimakan oleh Adam dan Hawa. Hanya buah Khuldi itu saja yang dilarang oleh Allah memakannya, agar dengan larangan itu, dapatlah Adam dan Hawa menahan hawa nafsunya, dan dengan adanya larangan itu Adam dan Hawa diuji tentang ingatan dan ketaatannya terhadap Allah. Karena hanya dengan ketaatan inilah Allah dapat memberikan kesempatan bagi manusia untuk tetap tinggal di dalam Syurga bersenang senang dan berbahagia.
Allah memberikan peringatan kepada Adam dan Hawa agar keduanya menjauhkan diri dari Iblis, jangan sampai menurutkan anjuran dan ajakan Iblis, karena Iblis sudah terang terang menyatakan dirinya sebagai musuh Adam dan anak cucunya buat selama lamanya, dan akan selalu berdaya upaya siang dan malam dengan tidak rasa letih dan tidak bosan bosanya, untuk menjauhkan Adam dan semua anak cucunya dari kebahagiaan hidup.
Allah berfirman kepada Adam: "Hai, Adam! Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu. Dia akan selalu menggoda engkau berdua agar engkau berdua terusir pula dari Syurga ini, sehingga engkau berdua hidup sengsara. Di Syurga ini engkau berdua dapat hidup bahagia, tidak akan menderita lapar dan susah."
Begitulah Adam dan Hawa tinggal di dalam Syurga. Hidup senang dan bahagia, riang dan gembira. Sedang Iblis yang sudah diusir dari Syurga, selalu berikhtiar untuk dapat masuk Syurga kembali, guna menipu dan memperdayakan Adam dan isterinya.
Pada suatu kali, Iblis berhasil dapat masuk ke dalam Syurga, bertemu dengan Adam dan isterinya. Iblis segera membujuk dengan berkata: "Hai, Adam! Aku datang untuk memberi nasihat yang baik kepadamu. Mahukah kamu aku tunjuk, bahwa di sana itu ada satu pohon yang amat lezat cita rasa buahnya. Bila buah yang lezat itu engkau makan, maka engkau dapat tinggal tetap di dalam Syurga ini buat selama lamanya, dan Syurga ini dapat engkau miliki sebagai satu kerajaan yang tak akan rusak buat selama lamanya bagi engkau berdua."
"Buah apakah gerangan yang engkau maksudkan itu?" tanya Adam kepada Iblis. Iblis menunjuk ke arah pohon Khuldi yang sudah dilarang oleh Allah memakannya. Melihat isyarat Iblis itu, tahulah Adam bahawa Iblis sudah mulai menggoda dan menyesatkannya. Adam lalu berpaling menjauhkan diri dari Iblis.
Tetapi Iblis tidak lekas putus asa. Dia mendapat kesempatan yang kedua bertemu dengan Adam dan Hawa. Segera pula dia membujuk: "Larangan Tuhan kepada engkau berdua memakan buah Khuldi itu, dimaksudkan jika engkau berdua adalah Malaikat. Sedang engkau berdua bukan Malaikat. Jadi engkau berdua tidak terlarang memakannya." Adam dan Hawa tidak mengacuhkan bujukan halus itu. Keduanya berpaling dan menjauhkan diri dari Iblis itu.
Sebagai telah diterangkan, ketika Iblis terusir dari Syurga, ia bersumpah dihadapan Allah bahwa ia dan anak keturunannya sampai hari kiamat akan berusaha menyesatkan Adam dan anak keturunannya. Bila ia gagal dalam usahanya yang pertama dan kedua, ia tidak akan putus asa, pasti ia akan berusaha untuk ketiga, keempat sampai ke sekian juta kalinya dalam menyesatkan dan menggoda manusia Ia tahu betul, bahwa salah satu kelemahan manusia itu, ialah sering lupa. Iblis menunggu satu waktu, di mana Adam dan Hawa sudah lupa akan perintah Allah yang melarangnya memakan buah terlarang itu.
Pada suatu ketika, setelah diselidikinya, Iblis tahu betul bahwa Adam dan Hawa dalam berlengah lengah karena kesenangan di Syurga itu. Dan Iblis tahu betul bahwa Adam dan Hawa disaat itu sudah merasakan agak lapar atau kering dahaga. Ia masuk mendapatkan Adam dan Hawa setelah ia memetik sendiri akan buah yang terlarang itu. Langsung dia berkata kepada Adam dan Hawa:
"Makanlah buah ini, demi Allah, aku ini bukan membujuk dan menyesatkan kamu, melainkan semata mata memberi nasihat yang baik, agar kamu berdua dapat menetap di Syurga ini untuk selama lamanya. Makanlah buah ini, makanlah!"
Mendengar Iblis bersumpah dengan menyebut nama Allah, Adam dan Hawa mulai berfikir: "Tentu seorang tak akan berani bersumpah dengan menyebut nama Allah dengan sumpah yang bohong. Iblis itu tentu berkata benar." Disaat Adam dan Hawa mulai ragu ragu terhadap kebenaran perkataan Iblis itu, Iblis menyadurkan buah Khuldi itu kepada Adam dan Hawa. Melihat buah yang enak segar dan harum semerbak itu, selera Adam dan Hawa mulai tertarik kepadanya. Adam dan Hawa lalu lupa akan larangan Allah yang melarangnya memakan buah itu. Buah itu diambilnya lalu dimakannya.
Baru saja buah Khuldi itu masuk ke dalam rongga perut Adam dan Hawa, maka lenyaplah pakaian yang menutup aurat keduanya, sehingga kedua suami isteri itu menjadi telanjang. Kedua duanya pandang memandang dengan perasaan malu yang tidak terhingga. Keduanya segera menyembunyikan diri agar tidak dilihat Allah. Keduanya memetik dua helai daun kayu yang terdapat di dalam Syurga, untuk menutup aurat masing masing.
Allah lalu berfirman kepada Adam: "Hai, Adam! Apakah engkau lari dari Aku?"
Jawab Adam: "Bukan aku lari dari Engkau, ya Allah, tetapi aku malu dan takut kepada Engkau."
Berkata Allah: "Bukankah Aku sudah melarang kamu berdua memakan buah itu! Dan Aku katakan pula, bahawa Iblis itu adalah musuhmu yang nyata? Tetapi kenapa engkau berdua masih memakan buah yang Aku larang itu?"
Dengan menundukkan kepala serendah rendahnya, Adam dan Hawa minta ampun dan taubat kepada Allah: "Ya Allah Tuhan kami! Kami sudah menganiaya terhadap diri kami sendiri. Kalau Engkau tidak sudi sekiranya mengampuni dan mengasihani kami, sungguh kami akan merugi dan sengsara berkepanjangan."
"Ya, Aku perintah, tapi engkau berdua melanggar perintahku," kata Allah pula.
"Maafkan dan ampunilah kiranya kami ini, ya Tuhan," kata Adam dan Hawa serentak.
Kembali Tuhan berfirman dengan marah: "Aku telah beri tempat engkau berdua di SyurgaKu ini, dan Aku sediakan segala apa yang engkau inginkan. Hanya Aku larang engkau berdua memakan buah Khuldi itu. Apakah buah Khuldi itu lebih berharga bagi engkau berdua daripada Syurga dengan segala isinya ini?"
Sahut Adam: "Sungguh tak ku kira Tuhan, Iblis berani berkata bohong kepadaku dengan menyebut namaMu."
Allah lalu memutuskan dengan firmanNya: "Demi kemuliaanKu. Engkau berdua harus meninggalkan Syurga ini, turun ke bumi yang sudah lama terbentang, di mana engkau berdua juga dapat hidup, tetapi harus dengan bersusah payah, dan dengan mencucurkan keringat, kadang-kadang juga airmata."
Dengan mata berlinang, sedih dan takut, Adam bersimpuh menundukkan kepala di hadapan Tuhan minta ampun: "Tuhanku! Tuhanku! Ampunilah aku, ampuni aku."
Terhadap Adam, Hawa dan Iblis, Allah menetapkan keputusan yang tak dapat di rubah lagi dengan berfirman: "Kamu semua harus turun ke bumi. Disanalah tempatnya bagi kamu untuk hidup bermusuh musuhan, tipu menipu, perdaya memperdayakan, berhasud dan dengki. Aku beri kesempatan kepada masing masing kamu untuk hidup di bumi ini di dalam waktu yang terbatas, juga dengan segala macam kesenangan dan kesusahan yang terbatas pula. Nanti akan datang ajal kepada masing masing kamu, lalu masing masing kamu akan Aku panggil kembali kepadaKu, untuk mempertanggung jawabkan apa yang kamu sudah lakukan selama hidup dimuka bumi itu."
Airmata semakin banyak jatuh bercucuran dari mata Adam dan Hawa. Keduanya menangis tersedu sedu, sambil menanggungkan sesal yang tidak terkira hebatnya atas kesalahan, lantaran godaan Iblis.
Kepada Adam dan Hawa kembali Allah berfirman: "Di bumi, kamu akan selalu didatangi dan digoda oleh Iblis dan semua anak cucu dan kakitangannya. Di bumi, kamu akan menghadapi perjuangan yang berat menghadapi mereka. Tetapi kamu jangan takut. Kepadamu dan anak cucumu akan Aku turunkan petunjuk petunjuk (ajaran-ajaran agama). Siapa diantara kamu dan anak cucumu itu yang senantiasa mengikuti petunjukKu itu, dia tidak akan tersesat dan tidak akan sengsara."
Tidak lama kemudian, tibalah Adam dan Hawa dipermukaan bumi yang fana. Diterimanyalah wahyu Ilahi yang pertama yang menyatakan, bahawa Allah sudah berkenan mengampuni dosa dan menerima taubat Adam dan Hawa. Sungguh Allah suka memberi ampunan dan taubat bagi siapa saja di antara hambaNya yang merasa dirinya bersalah dan suka minta ampun dan taubat
Cerita Adam yang memakan buah terlarang, lalu dikeluarkan dari Syurga dan ditempatkan di bumi ini, sudah menyesatkan banyak manusia dari dahulu sampai sekarang. Mereka katakan bahwa dengan perbuatan Adam itu maka dia sudah berdosa sebesar besar dosa, sehingga Adam diusir Allah ke bumi ini. Bahkan bukan hanya Adam dan Hawa saja yang berdosa besar, melainkan juga seluruh anak keturunannya sampai hari kiamat. Demikian hebat dan besarnya dosa Adam dan keturunannya dengan kesalahan tersebut, tidak dapat diampuni begitu saja, sehingga Allah karena kasihNya, menjelma menjadi anak manusia melalui perut seorang wanita, lalu mati di tiang salib untuk menebus dosa tersebut.
Untuk menghindarkan manusia dari kesesatan yang nyata ini, Allah telah mengutus RasulNya yang terakhir, yaitu Muhammad s.a.w., untuk menyampaikan wahyu wahyu dari Allah,yiaitu al-Quran. Berulang kali dalam al-Quran, Allah menyatakan bahawa Adam melanggar perintah Allah itu, adalah semata mata karena terlupa sama sekali bukan karena sengaja. Sebab itu, Adam dianggap Allah hanya tersalah, dan bukan berdosa yang tidak terampun. Semua kesalahan yang dilakukan manusia karena lupa, tidaklah dianggap Allah sebagai dosa. Apalagi kesalahan Adam ini hanya sekadar memakan sebiji buah, tidaklah dapat dianggap sebagai kesalahan besar, melainkan hanya suatu kesalahan yang amat kecil dan kecil sekali.
Tetapi bagaimanapun kecilnya kesalahan ini, karena kesucian dan kesadarannya yang amat tinggi itu, Adam sangat menyesal, Adam mengeluh, Adam minta ampun dan taubat. Seorang yang dapat menyadari akan kesalahannya, bukanlah orang yang berdosa, melainkan seorang yang amat mulia, seorang yang amat suci.
Berulangkali pula didalam al-Quran diterangkan, bahawa Allah sudah berkenan mengampuni kesalahan Adam yang kecil itu. Bahkan bukan hanya diampuni dan diberi taubat saja oleh Allah, melainkan karena kesadarannya dan penyesalannya itu, Adam menjadi manusia yang terpilih, diberi petunjuk dan diangkat Allah menjadi Nabi. Adalah suatu kesesatan yang nyata, menganggap seorang Nabi yang berdosa.
Begitu pun tentang dikeluarkannya Adam dan Hawa dari Syurga, lalu dipindahkan dan ditempatkan di bumi ini, bukanlah menunjukkan bahwa Adam berdosa. Karena bukankah telah diterangkan bahwa sebelum Adam melakukan pelanggaran tersebut, Allah sudah menyatakan kepada seluruh Malaikat, bahawa Adam itu diciptakan Allah untuk menjadi Khalifah di bumi ini. Artinya bahwa Adam dan anak cucunya, diciptakan Allah untuk menghuni bumi yang sudah terbentang luas. Adalah suatu kesesatan yang nyata pula, kalau di katakan bahwa manusia ditempatkan di bumi ini, karena dosa dan kesalahan yang telah diperbuat Adam dan Hawa. Umat Islam harus membersihkan diri dari kesesatan yang nyata ini.
Adam menurut ajaran agama kita Islam, selain manusia pertama, juga seorang Nabi dan Rasul. Kita umat Islam diwajibkan beriman kepada semua Nabi dan Rasul, serta mempercayai bahawa setiap Nabi dan Rasul itu harus bersih dari segala dosa, sekalipun sebagai manusia mungkin saja tersalah, yaitu karena lupa dan lain lain. Kesalahan bukan dosa. Nabi nabi dan Rasul rasul yang lain pun pernah pula bersalah karena lupa. Nabi Muhammad s.a.w. pernah tersalah, iaitu mengakhiri sembahyang asar yang seharusnya empat rakaat, sesudah beliau baru saja melakukannya dua rakaat. Setelah diperingatkan oleh para Sahabat yang menjadi makmumnya, barulah beliau sadar, dan beliau langsung meneruskan sholat tersebut sampai empat rakaat.
Lebih hebat lagi kesesatan sebagian manusia yang mengatakan bahawa: kesalahan Adam itu menjadi dosa pula bagi semua anak cucunya sampai hari kiamat, yang mereka katakan dosa asal. Padahal semua manusia yang baru lahir, bersih dari segala dosa, sekalipun ibu bapaknya berdosa atau bersalah. Tidaklah adil dan patut kalau seorang ibu atau bapak berdosa, lalu anaknya dianggap berdosa pula karena dosa ibu dan bapaknya itu. Dosa itu baru timbul sesudah seorang anak menjadi baligh dan berakal (aqil baligh), kerana perbuatannya sendiri.
Alangkah hebatnya dosa orang yang membawa manusia kepada agama kepercayaannya yang setiap waktu secara berulangkali mengatakan bahawa Nabi Adam berdosa. Mengambinghitamkan seorang manusia suci, Nabi dan Rasul, yaitu Adam, untuk mendapatkan pengikut, bukanlah suatu perbuatan yang suci, melainkan sebaliknya, suatu perbuatan yang tercela dan berdosa pula.
Kisah Adam yang demikian itu disampaikan Allah kepada manusia dengan perantaraan Kitab SuciNya al-Quran, adalah sebagai pelajaran dan peringatan bahawa kita manusia sekalipun makhluk terbaik dan mulia tetapi tetap mempunyai kelemahan. Diantara kelemahan manusia itu ialah sifat pelupa. Dan disaat kita lupa itu, kita dapat diperdayakan dan disesatkan oleh Iblis. Hendaknya berhati hati sekali jangan sampai dapat disesatkan oleh Iblis itu.

MULAI HIDUP BERKETURUNAN
Alangkah terkejutnya Adam dan Hawa setibanya dipermukaan bumi ini. Sungguh besar perbedaan Syurga dengan Bumi, seperti perbedaan siang dengan malam. Dilihat Adam dan Hawa bahwa bumi ini penuh dengan hutan belantara. Penuh dengan pokok pokok yang besar dan bercabang cabang.
Didalamnya hidup segala macam binatang buas yang selalu hendak menerkam mangsanya. Singa, harimau, gajah, beruang, ular dan lain-lain sebagainya. Karena takutnya terhadap binatang buas itu, Adam dan Hawa dengan bersusah payah, segala upaya mencari tempat untuk bersembunyi. Disalah satu dataran tinggi, didapati Adam dan Hawa sebuah gua yang agak luas. Disanalah mereka menetap dan bersembunyi.
Tetapi akhirnya Adam dan Hawa merasa haus dahaga dan lapar. Dengan bersusah-payah pula, keduanya harus keluar dari gua mencari air untuk diminum dan buah-buahan untuk dimakan. Tetapi tidak semua air dapat diminum dan tak semua buah dapat dimakan, Ada yang pahit, masin, asam, dan ada pula yang enak, manis dan gurih. Ya, ternyata, bahwa kehidupan didunia ini beda dengan kehidupan di Syurga dahulu. Kehidupan didunia ini setiap saat atau detik penuh dengan perjuangan. Setiap saat harus memeras otak, memeras tenaga dan keringat.
Begitulah, setiap kali merasa haus dahaga dan lapar, Adam dan Hawa terpaksa berjalan sejauh jauhnya mencari air dan buah buahan. Sedangkan bahaya binatang binatang buas selalu mengancam jiwanya. Rupanya kehidupan dipermukaan bumi ini, adalah satu cara hidup yang selalu dalam proses dan peredaran, yang selalu silih berganti antara senang dan susah, dingin dan panas, naik dan turun, kenyang dan lapar, sehat dan sakit dan seterusnya. Segala macam penderitaan yang berbentuk dahaga, lapar, bahaya binatang buas dan lain-lain telah dapat menggerakkan akal dan fikiran Adam dan Hawa, bagaimana mereka dapat membebaskan diri dari penderitaan itu.
Timbullah fikiran dalam hatinya untuk menanam pohon-pohon yang buahnya enak dimakan disekitar tempat kediamannya, agar dia terhindar dari bahaya binatang-binatang buas didalam hutan belukar mencari atau memetik buah-buah yang dia inginkan. Dengan mempergunakan dahan dahan kayu, tempat disekitar gua itu ditebasnya. Dipindahkannya ke situ tumbuh tumbuhan yang dirasanya enak dimakan buahnya, untuk menghilangkan laparnya.
Ya, Adam terpaksa memeras tenaga, mencucurkan peluh, memeras otak dan fikiran, untuk mendapatkan makanan menghilangkan lapar. Isterinya Hawa pun demikian pula. Dia terpaksa menolong Adam dengan tenaga yang ada padanya. Begitulah, bertahun tahun kemudian, Adam dan Hawa sudah dapat bercocok tanam, dan sudah pandai pula berternak memelihara binatang ternakan seperti kambing dan ayam

KETURUNAN PERTAMA
Dalam kehidupan bersuami isteri, Hawa mulailah hamil. Tidak lama kemudian lahirlah ke permukaan bumi ini turunan Adam dan Hawa yang pertama. Anak yang pertama ini lelaki seperti Adam. Anak itu diberi nama Qabil.
Alangkah bahagianya Adam dan Hawa setelah dari pergaulannya berdua itu, lahir seorang manusia baru, anaknya yang pertama itu, menambah anggota masyarakat yang hanya terdiri dari dua orang menjadi tiga orang. Hawa mulai sibuk menjaga dan mengasuh anaknya, tidak dapat lagi keluar membantu Adam bercocok tanam dan mengembala ternakan. Adam terpaksa keluar seorang diri dan bekerja. Setiap petang kalau dia sudah lelah, dia pulang kembali ke gua tempat kediamannya untuk istirahat, menemui isteri dan anaknya. Makanan yang didapatinya dibawanya pulang dan dimakannya bersama sama dengan isteri dan anaknya.
Dengan begitu, kegembiraan hidup Adam dan Hawa diatas bumi tampaknya semakin hari semakin bertambah. Kegembiraan yang bertambah itu telah dapat menghilangkan kelelahan bekerja dan ketakutannya terhadap binatang binatang buas.
Setelah berlalu pula kira kira setahun lamanya, kembali Hawa menjadi hamil. Tidak lama kemudian, lahirlah anaknya yang kedua, seorang wanita. Dan anak perempuan ini dinamai Adik Qabil. Dengan kelahiran yang kedua ini, Adam dan Hawa semakin gembira hidupnya dan semakin rajin dan tekun bekerja mencari penghidupan.
Begitulah dari tahun ke tahun, keluarga Adam selalu bertambah tambah dengan anak yang ketiga, seorang lelaki dinamai Habil, anak keempat seorang perempuan, dinamai Adik Habil, kelima, keenam dan seterusnya. Adam terpaksa bekerja lebih keras untuk mendapatkan makanan lebih banyak kerana bilangan keluarganya semakin besar.
Adam dan Hawa menjadi semakin tua, sedang anak anaknya pun semakin besar dan meningkat dewasa. Qabil dan Habil sekarang sudah meningkat jadi muda remaja. Akal dan fikirannya mulai timbul. Timbul perasaan wajib menolong ibu bapanya, bekerja bertani dan menggembala, menghasilkan makanan dan minuman bagi keluarganya yang semakin besar, turut berjuang menjaga adik adiknya dari bahaya singa dan harimau, dan binatang-binatang buas lainnya.
Mulai tampak perbedaan alam wanita dengan lelaki. Anak anaknya yang lelaki kebanyakan suka bekerja di luar rumah, bertani, berburu dan memelihara binatang binatang ternak. Sedang anak anaknya yang wanita suka bekerja di rumah, memasak makanan dan minuman serta menjaga adik adik dan mengurus keperluan keperluan rumahtangga.
Sekalipun Qabil dan Habil dua bersaudara, sebapak dan seibu, dan sama lelaki, sama sama dibawah asuhan seorang ibu dan seorang bapak, tinggal didalam dan iklim yang sama, tempat yang sama pula, namun kodrat Ilahi dan kehendak Allah lah yang lebih menentukan segala sesuatu didalam alam yang luas ini. Keadaan rohani dan jasmani dari Qabil dan Habil tidaklah sama, berbeda satu dengan yang lain. Ada perbedaan besar. Qabil sekalipun lebih tua, tetapi badannya lebih kecil dan lemah. Habil sekalipun lebih muda, tetapi badannya lebih besar dan lebih kuat. Qabil sekalipun lebih tua dan berbadan lemah, tetapi tabiatnya amat kasar. Sedang Habil yang berbadan kuat dan besar, tetapi tabiatnya sangat baik dan perasaan yang sangat halus, lagi berbudi pekerti tinggi.
Adam bermaksud akan membagi-bagikan perkerjaan kepada dua orang anaknya yang meningkat remaja itu. Qabil dengan tabiatnya yang kasar itu diserahi oleh Adam untuk bertani, mengolah tanah, menyangkul dan menebas hutan belukar, kerana tanah dan hutan belukar adalah barang mati yang tidak memerlukan perasaan halus dan cinta kasih.
Ada pun Habil kerana perasaannya yang halus dan perasaan kasih sayangnya, diserahi oleh Adam untuk memelihara binatang ternak, yaitu kambing dan lembu yang dapat merasakan haus dan lapar, sakit dan senang, sebab itu perlu disayang, dicintai, harus diurus oleh manusia yang mempunyai perasaan halus dan rasa kasih sayang.
Baru saja matahari terbit di waktu pagi, maka keluarlah Adam, Qabil dan Habil dari gua tempat kediaman mereka untuk bekerja. Qabil terus menuju ke hutan menebas belukar, ke ladang menyangkul, menaburkan benih atau menuai, bila tanam tanamannya sudah masak untuk dituai.
Sedang Habil menuju ke padang rumput untuk memelihara dan menggembalakan ternaknya. Adam kadang kadang pergi berburu, mencari ikan atau burung, untuk dimakan dagingnya sebagai lauk pauk. Atau pergi mencari air untuk di minum atau untuk memandikan anak anak dan isterinya. Kalau matahari sudah hampir tenggelam, siang akan berganti dengan malam, mereka kembali ke gua tempat kediaman mereka. Qabil membawa buah buahan dan sayuran, Habil membawa susu, sedang Adam membawa burung-burung dan ikan hasil buruannya. Sesudah semua buah tangan itu dimasak oleh Hawa, mereka makanlah bersama sama dengan enaknya.
Diwaktu dan sesudah makan bersama ini, timbullah fikiran pada Adam untuk mengajar anak anaknya bersyukur kepada Allah yang telah memberi mereka rezeki sebanyak itu.
Lihatlah kata Adam kepada anak-anaknya: "Kita ini tidak akan ada kalau tidak diciptakan oleh Allah. Allahlah yang menciptakan diri kita masing-masing. Diciptakan Allah pula bumi yang lebar dan luas ini untuk tempat tinggal kita. Lihatlah, alangkah luas dan lebarnya bumi Allah yang kita tempati ini. Di sinari oleh matahari di waktu siang bulan dan bintang-bintang, diwaktu malam. Ditumbuhkan Allah segala macam tumbuh-tumbuhan, dikembangkan Allah segala macam binatang binatang untuk menjadi rezeki kita. Marilah kita menyembah kepada Allah dan mensyukuri segala nikmat dan rahmatNya kepada kita."
Untuk menguji tentang keimanan dan kesyukuran kedua orang anaknya yang sudah remaja itu, Adam menyuruh kedua orang anaknya yang bernama Qabil dan Habil itu untuk pergi ke puncak sebuah gunung. Kedua dua orang anaknya itu disuruh oleh Adam membawa sebahagian dari penghasilan masing masing, dan meletakkan penghasilannya di puncak gunung itu, agar dapat dimakan oleh makhluk Allah yang mana saja membutuhkannya, yaitu makhluk makhluk Allah yang tidak pandai bercocok tanam dan memelihara binatang ternak. Pekerjaan ini dinamai Adam berkorban, berzakat dan beribadah.
Pekerjaan berkorban, berzakat dan beribadah ini sangat cocok dan sesuai dengan perasaan Habil, karena dengan perasaannya yang halus dan fikirannya yang dalam, dia dapat merasakan kebesaran Allah yang banyak nikmat pemberianNya. Apalagi pengorbanan tersebut, akan dapat pula menolong beberapa macam binatang-binatang yang dalam kehausan atau kelaparan.
Adapun Qabil dalam hatinya sangat menentang pekerjaan itu. Mengorbankan sebagian dari hasil kerjanya yang didapatnya dengan penat lelah, untuk dijadikan zakat atau ibadah terhadap Allah, dianggapnya satu pekerjaan yang tidak berguna, atau pekerjaan orang bodoh dan merugikan. Alangkah susahnya mencari rezeki, katanya, kenapa rezeki itu dilemparkan ke puncak gunung untuk dimakan binatang binatang yang tidak ada gunanya. Iblis yang dilontarkan Allah ke bumi, rupanya sudah mulai menjalankan peranannya, untuk memesongkan hati manusia dari amal dan perbuatan yang baik. Habil rupanya tak mampu digoda dan diperdayakannya. Tetapi Qabil merupakan tanah yang subur bagi Iblis untuk menjalankan tipu dayanya.
Iblis sudah dapat memasuki salah satu kelemahan dari unsur manusia dengan saluran kecintaan manusia kepada harta benda. Harta dan kekayaan adalah satu alat buat Iblis untuk memperdayakan manusia. Untuk berkorban ini, Habil memilih kambingnya yang terbaik dan tergemuk. Sesudah disembelihnya, lalu ditaruhkannya dipuncak gunung, sebagai qurban dan tanda terimakasihnya terhadap Allah yang telah memberikan rezeki.
Qabil sekalipun dengan perasaan enggan dan terpaksa, juga melakukan ibadah qurban itu. Tetapi untuk qurban ini dia memilih buah-buahan yang tidak baik, yang sudah setengah busuk, karena hatinya memang tidak baik dan busuk pula.
Baik Habil atau Qabil lalu meletakkan qurban masing-masing dipuncak gunung, dengan harapan qurban itu akan diterima oleh Allah dengan penerimaan yang baik. Pada hari berikutnya, pergilah kedua bersaudara itu diiringkan oleh bapaknya Adam, untuk melihat, apakah qurban qurban itu sudah diterima oleh Allah atau tidak.
Ternyata bahwa korban Habil sudah tidak ada lagi, berarti sudah diterima oleh Allah dengan baik. Tetapi qurban Qabil yang terdiri atas buah-buahan yang tidak elok dan busuk itu, masih saja ada disitu bahkan sudah menjadi lebih busuk. Itu berarti bahwa qurban Qabil tidak diterima oleh Allah.
Bukan main girangnya Habil melihat sebagian sedekah qurbannya diterima dengan baik oleh Allah. Dia lalu bersyukur dan berterimakasih. Qabil menjadi marah dan irihati, karena qurbannya tidak diterima oleh Allah. Dengan marah dia berkata kepada bapaknya: "Qurban si Habil diterima oleh Allah, kerana bapak mendoakan baginya. Qurban saya tidak diterima oleh Allah, kerena bapak tidak suka mendoakan bagi saya."
Adam lalu menjawab: "Habil mengorbankan barang barang yang baik, karena hatinya baik. Qurbannya diterima oleh Allah, karena Allah suka pada barang-barang yang baik. Sedangkan engkau mengurbankan buah buahan yang tidak baik dan busuk. Itu menunjukkan hatimu yang busuk. Qurbanmu tidak diterima oleh Allah, karena Allah tidak suka pada barang-barang yang busuk dan tidak baik."
Qabil menjadi marah dan irihati karena qurbannya tidak diterima oleh Allah. Dengan marah dia berkata kepada adiknya Habil, sekalipun Habil tidak bersalah apa apa terhadap dirinya. Tetapi begitulah caranya Iblis menggoda manusia tanpa alasan yang tepat pun. Iblis dapat menggoda manusia manusia yang lemah jiwa dan batinnya, lemah imannya untuk membenci saudaranya sendiri yang tak bersalah apa apa. Sesungguhnya tipu muslihat Iblis itu halus dan licin sekali.
Qabil pulang ke rumahnya dengan hati yang marah dan menggerutu. Kepalanya digeleng gelengkan tanda marah yang bersangatan. Marah kepada saudaranya Habil yang baik dan tidak bersalah apa apa terhadap dirinya. Bukan marah terhadap dirinya sendiri yang tidak baik dan busuk itu.
Ya, begitu halusnya godaan Setan dan Iblis terhadap manusia, untuk mengeruhkan pergaulan sesama manusia dalam kehidupan di permukaan bumi ini. Setelah masing masing anak Adam itu meningkat dewasa, maka anak anak lelaki mulai merasakan keperluan terhadap isteri, sedang anak anak perempuan merasakan keperluan terhadap suami, kerana memang demikianlah sunnah yang ditetapkan Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk berjiwa lainnya.
Sekalipun masyarakat manusia di masa hidupnya Adam itu baru terdiri atas beberapa orang lelaki dan beberapa orang wanita saja, namun begitu untuk memenuhi hasrat bersuami isteri ini agar berjalan dengan teratur, maka Allah menetapkan beberapa aturan (syari'at) yang harus dijalankan oleh masing masing manusia yang menjadi anggota masyarakat yang kecil itu.
Ditetapkan Allah syari'at (aturan) bagi anak anak Adam dan Hawa yang sudah dewasa itu, yaitu aturan yang sangat sederhana sekali. Qabil anak pertama, boleh kawin dengan Adik Habil anak keempat, sedang Habil anak ketiga boleh kawin dengan Adik Qabil anak kedua. Jadi masing masing Qabil dan Habil tidak boleh kawin dengan adiknya sendiri. Syari'at itu diwahyukan Allah kepada Adam. Adam menyampaikan wahyu ini kepada isteri dan anak anaknya yang sudah berhasrat kawin itu. Syari' at ini diterima dengan segala ketaatan dan kepatuhan oleh Adam, Hawa dan anak anaknya.
Hanya Qabil yang tidak mahu tunduk terhadap syari'at yang ditetapkan Allah ini. Iblis mendapat peluang yang baik sekali dengan perantaraan perasaan berahi antara lelaki dan wanita, dengan perantaraan nafsu dan keinginan keinginan hidup manusia. Kepada Qabil dibisikkan oleh Iblis bahwa Adik Qabil lebih cantik dari Adik Habil.
Kata Iblis kepada Qabil: "Jangan kamu tunduk kepada penetapan bapakmu yang tidak adil itu. Adikmu sendiri jauh lebih cantik dari Adik Habil. Kenapa bapak menyuruh kamu kawin dengan Adik Habil yang tidak cantik itu, sedang adikmu yang cantik itu diberikan kepada Habil untuk menjadi isterinya?"
Dengan bujukan Iblis itu, mulailah kekuatan nafsu yang tidak mau menurut keputusan dengan segala macam alasannya. Kecantikan seorang wanita telah dapat dipergunakan oleh Iblis untuk menimbulkan perselisihan antara dua orang lelaki yang bersaudara kandung itu. Ini bukan hanya terjadi terhadap atas diri anak anak Adam dan Hawa dahulu kala, tetapi masih terjadi pada anak cucu Adam dan Hawa yang hidup diabad ini, atau zaman modern dan globalisasi sekarang ini.
Adam dan Hawa sebagai bapak dan ibu mulai bingung memikirkan bagaimana caranya agar dia dapat memenuhi keinginan anak anaknya dengan tidak melanggar syari'at yang sudah ditetapkan Allah, agar tetap hidup dalam keadaan aman tenteram dan selamat dimuka bumi ini.
Bila syari'at Allah dijalankan akan terjadi perselisihan antara anak anaknya. Bila keinginan anaknya yang diteruskan akan terjadi keingkaran terhadap syari'at yang ditetapkan Allah. Satu kesempatan yang sangat baik sekali bagi Iblis untuk menjalankan tipudaya dan siasatnya. Perselisihan antara manusia sesama manusia adalah jalan yang amat lurus bagi Iblis untuk sampai pada tujuannya.
Kesempatan baik ini, tidak disia-siakan Iblis. Iblis segera datang berbisik ke telinga Qabil: "Hai, Qabil! Janganlah lekas putus asa. Ada satu cara yang amat mudah untuk mengatasi jalan buntu antara engkau dan adikmu Habil, untuk menyampaikan hasrat hatimu kawin dengan adikmu yang cantik itu. Jalan satu-satunya ialah supaya kamu bunuh saja adikmu yang bernama Habil itu."
Mula mula Qabil agak ragu ragu terhadap cara penyelesaian yang dianjurkan Iblis itu. Yaitu dengan cara membunuh Habil, adik kandungnya sendiri, saudara yang seibu dan sebapak dengannya.
Beberapa hari lamanya Qabil termenung tidak keruan hidupnya. Berdiri bermenung, duduk bermenung, tidur tak berasa puas, makan tak berasa enak. Duduk termenung dan melamun adalah merupakan tanah yang amat subur pula bagi Iblis untuk menanam siasat dan tipu dayanya terhadap manusia. Orang yang duduk bermenung berarti fikirannya menjurus ke satu jurusan saja. Dia lupa akan jurusan jurusan lain dalam hidupnya. Apalagi kalau yang dimenungkan itu hal yang tak baik. Dia akan lupa akan kemaslahatan dirinya. Apa lagi kemaslahatan ibu bapak dan keluarganya. Dia akan lupa akibat akibat yang akan timbul dari perbuatannya itu. Di saat yang amat kritikal dalam menungannya itu, Iblis datang langsung menemui Qabil dengan anjuran yang lebih tegas:
"Bunuh saja, hentam saja, jangan fikir panjang lagi !"
Melihat keadaan dan tabi'at Qabil yang luarbiasa itu, Adam, Hawa, Habil seluruh anggota anggota keluarganya menjadi gelisah. Masing-masing mereka mencoba memberi nasihat kepada Qabil. Berkata Adam kepada Qabil: "Jangan engkau perturutkan ajakan Setan dan Iblis. Tunduklah kepada syari'at yang ditetapkan Allah yang telah disetujui oleh ibu bapakmu sendiri." Habil dengan hati yang lapang dan pandangan yang luas mencoba menasehati abangnya yang sudah lupa daratan itu: "Lebih baik engkau mencari jalan yang hak, hai saudaraku, menempuh jalan yang membawa selamat, menjauhkan diri dari jalan yang membawa celaka dan kesengsaraan yang berlarut larut."
"Ketahuilah, saudaraku," katanya lagi, "bahwa apa yang terjadi ini adalah syari'at dan takdir yang sudah ditentukan Allah. Ibu dan bapak, begitupun saya sendiri hanya semata-mata menjalankan perintah dan syari'at Allah itu. Kita sekalian diciptakan Allah hidup di permukaan bumi ini, adalah semata mata untuk dapat menjalankan syari'at dan untuk mengabdikan diri kita kepada Allah yang menciptakan kita itu. Sungguh engkau akan berdosa bila keluar dari jalan yang hak sudah ditentukan Allah. Maka lebih baik engkau minta ampun atas dosamu itu, sebagaimana saya selalu minta ampun dan menyerahkan nasib dan untungku seluruhnya kepada Allah yang menciptakan seluruh alam ini."
Nasehat yang bagaimana juga baik dan benarnya, rupanya tidak berbekas pada jiwa yang penuh nafsu yang sedang bergejolak membakar. Qabil malah menjadi semakin galak garang. Dia segera mendekati adiknya Habil yang masih memberi nasihat dan berkata: "Engkau jangan banyak bicara. Engkau pasti saya bunuh."
Dengan heran dan sabar, Habil menjawab: "Kenapa kau ingin bunuh aku?" "Karena bapak dan Allah lebih suka kepada engkau," jawab Qabil. "Dengan membunuh saya, keadaan tidak akan berubah, malah bapak dan Tuhan akan semakin marah terhadap engkau," jawab Habil. "Tak peduli, engkau pasti aku bunuh, agar senang hatiku," kata Qabil dengan garangnya. Sekalipun Habil jauh lebih kuat badannya dari Qabil, kerana budinya yang tinggi, dia tetap bersabar diri dan berkata: "Sekali pun engkau telah mengacungkan tangan untuk membunuhku, saya tetap tidak akan menggerakkan tangan untuk membunuhmu. Saya takut kepada Tuhan Semesta Alam."
Habil terus berjalan menuju tempat kediamannya, Qabil mengikutinya dari belakang dengan hati panas menbara. Setibanya di gua, masih saja dia terbakar bakar dan marah. Dicobanya menidurkan mata, tidak bisa tidur. Semalam malaman itu dia tak sedikitpun dapat tidur. Dadanya terasa panas.
Disaat itu datang lagi Iblis meniup-niup hatinya yang sudah panas itu dengan berkata: "Bunuh Habil, bunuh Habil, bunuh Habil !"
Diwaktu pagi seperti biasa, Habil bangun dari tidurnya. Dengan perasaan lega dia menuju ke padang rumput menggembalakan ternaknya. Qabil yang sedang diperkuda oleh Iblis dengan sembunyi sembunyi mengikutinya dari belakang. Maksudnya untuk membunuh Habil yang tidak ragu ragu lagi, malah bertambah menyala nyala. Dikala matahari, bulan, bintang bintang beredar diangkasaraya menjalankan perintah Tuhannya, dikala burung burung berkicau bersiul berterbangan ke sana ke mari menjalankan tugasnya masing masing sambil bertasbih mensucikan Tuhan Yang Maha Suci, Qabil dengan mencapai dahan kayu yang amat keras dan berat memukul kepala Habil dari belakang sekuat hatinya.
Darah bertumpah dan mengalir membasahi permukaan bumi buat pertama kali. Habil menjerit kesakitan, badannya terhempas ke bumi dan bergeletar. Terjadilah apa yang disangsikan para Malaikat terhadap manusia, ketika Malaikat diberitahu Allah bahwa manusia akan diciptakan Allah untuk menjadi Khalifah (pengatur) diatas bumi. Malaikat sangsi bahwa manusia akan berbuat binasa di bumi dan akan menumpahkan darah. Kesangsian itu kini untuk pertama kalinya sudah terjadi, mungkin akan disusul pula dengan kejadian-kejadian kedua, ketiga, keempat dan sampai entah ke berapa kali lagi; bahkan pembunuhan itu bukan hanya dilakukan oleh seorang manusia terhadap seorang manusia saja, tetapi akan terjadi pembunuhan pembunuhan besar, beribu-ribu manusia dengan alat alat pembunuhnya yang terkejam dan termodern akan membunuh beribu ribu manusia lainnya, manusia yang bersalah dan tidak bersalah, wanita atau anak anak di bawah umur sekalipun.
Setelah melihat darah mengalir membasahi bumi, serta mendengar jeritan Habil yang memilu dan menyayat perasaan itu, maka Iblis yang memperkudanya itu tersenyum simpul, lalu pergi meninggalkan korbannya, sebagai seorang yang menang, karena niat dan tipudayanya sudah berhasil. Makin yakin ia akan kelebihan dirinya dan akan kelemahan atau kekurangan Bani Adam (manusia).

Sepeninggalan Iblis itu, Qabil mulai sedar akan kebodohan dirinya. Perasaan menyesal atas perbuatan yang baru dilakukannya mulai tumbuh, muncul dengan perlahan dari lubuk hatinya. Teringatlah ia, bahawa adiknya (Habil) adalah seorang baik dan tidak bersalah apa apa. Mulailah dia merasakan bahawa perbuatannya itu amat kejam. Mulai timbul kesadaran, bahwa dia salah besar. Tidak ada keuntungan yang diperolehnya dari pembunuhan ini. Dan tidak mungkin pembunuhan ini akan membawa kesenangan hatinya. Malah sebaliknya, hatinya bertambah gundah, dia merasa rugi, kosong dari perasaan aman dan tenteram. Apalagi setelah dilihat dengan mata kepalanya sendiri keadaan adiknya Habil yang bergeletar ditanah menghadapi sakaratul maut. Suara rintihannya semakin halus, akhirnya hilang lenyap. Sebaliknya seluruh anggota badannya semakin hebat menghempas ke kiri dan ke kanan menandakan rasa sakit yang tak terhingga. Nafasnya sesak, seakan akan jantung dan paru parunya sudah tidak kuasa lagi menghirup udara atau hawa. Akhirnya seluruh gerak geriknya berhenti, sekujur badannya menjadi lemah lunglai, dan dia lalu menghembuskan nafas yang terakhir.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'uun." Ya, semua manusia akan mati. Bahkan semua makhluk berjiwa akan mengalami mati. Karena begitulah sunnah Ilahi yang menciptakan seluruh makhluk berjiwa ini. Kerana Allah sudah menetapkan dari asal, bahawa kehidupan didunia ini hanya buat sementara saja, hanya sebagai singgah dalam perjalanan ke arah penghidupan yang kekal dan abadi di akhirat. Diakhirat nanti akan diperhitungkan satu persatu amal dan kerja setiap manusia selama hidupnya di dunia ini. Setiap amal, buruk dan baik, kecil dan besar tidak ada yang tertinggal dan tidak kena perhitungan itu. Semua akan mendapat balasan yang setimpal. Perbuatan baik balasannya baik.
Perbuatan jelek atau jahat pembalasannya jahat pula. Orang yang hidupnya teraniaya di permukaan bumi ini janganlah terlalu bersedih hati. Bersabarlah, Tuhan sanggup membalikkan penganiayaan itu ke alamat asalnya. Dan orang yang menganiaya, jangan terlalu bergembira dalam hidup, pasti akan merasakan sakit dan pedihnya penganiayaan yang dia lakukan itu !
Angin sepoi mulai berhembus dan bertiup. Semua daun daun kayu bergerak dan berdesir. Hembusan angin sepoi itu seakan akan menjamah sekujur tubuh Habil yang sudah tak bernafas lagi itu sebagai hiburan dan tanda turut berdukacita. Sedangkan desiran daun daun seakan akan bertasbih meratapi dan meucapkan selamat jalan kepada jenazah Habil yang sedang pulang kembali ke Rahmatullah.
Adapun Qabil mendengar desiran daun dihembus angin sebagai bisikan yang mengecam dan mengutuknya: "Qabil, engkau pembunuh, engkau pembunuh, engkau kejam, engkau kejam, bodoh, engkau bodoh."
Burung burung dan binatang binatang buas dengan berbagai bunyi, seakan akan berkata kepadanya menyesali perbuatannya itu: "Engkau pembunuh, engkau kejam."
Qabil mulai mengerang panjang. Dia mulai merasa takut. Badannya berasa berat dan kakinya berasa lemah. Tiba tiba dia tersungkur jatuh disamping jenazah adiknya Habil. Dia memanggil manggil: "Habil! Habil! Habil !"
Habil tidak menjawab, kerana dia sudah menghembuskan nafas yang terakhir, telah bercerai jiwa dengan raganya. Tinggallah Qabil termangu mangu disamping jenazah adiknya. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Apakah jenazah adiknya itu akan ditinggalkannya begitu saja sehingga biar dimakan serigala dan burung burung?
Tak sampai hati dia meninggalkannya begitu saja. Akhirnya jenazah itu dipikul ke bahunya dan dibawanya. Tetapi dia tidak tahu ke mana jenazah itu akan dibawanya dan akan diapakan jenazah itu. Dia terus berjalan dan berjalan. Akhirnya dia menjadi letih, lalu berhenti melepaskan lelah. Hatinya sedih dan mulai berkhayal agar adiknya hidup kembali. Sesalnya bertambah tambah, sehingga dia menjadi tak keruan dan gelisah. Mulai dia marah kepada dirinya sendiri.
Setelah letihnya agak berkurang kembali jenazah adiknya itu dipikulnya ke bahunya. Dia berjalan tidak bertujuan. Setelah penat, dia berhenti pula melepaskan lelah. Begitulah berulang ulang sampai letih dan lesu, dibawah terik panas matahari.
Tiba tiba dia melihat dua ekor burung gagak berkejar kejaran. Kedua burung gagak itu sama menyiruk ke bawah, hinggap ditanah. Keduanya berkelahi sehebat hebatnya, tikam menikam, pukul memukul dengan paruhnya masing-masing. Salah satu di antara kedua burung itu kena pukul yang keras sekali, sehingga patah lehernya. Burung yang kena pukul itu bergeletar ditanah menghempaskan diri. Tak lama kemudian burung itu mati.
Setelah mengetahui bahawa burung yang kena itu sudah mati, lalu burung yang masih hidup menggali lubang ditanah dengan menggunakan kaki dan paruhnya. Setelah lubang itu menjadi besar dan dalam, gagak yang hidup menarik gagak yang mati dengan paruhnya ke dalam lubang. Lubang itu lalu ditutupnya kembali dengan tanah. Gagak yang masih hidup lalu terbang meninggalkan tempat itu
Melihat itu, Qabil takjub hairan sekali dan berkata kepada dirinya sendiri: "Rupanya aku ini jauh lebih bodoh dari gagak yang hitam itu." Dia lalu meniru gagak itu. Lubang digali, lalu jenazah adiknya dimasukkan dalam lubang itu, dikuburkan dan ditimbunnya dengan tanah.
Setelah agak lama Habil dan Qabil tidak pulang, Adam dan Hawa mulai khuatir dan cemas. Adam lalu berangkat mencari kedua orang anaknya itu.
Alangkah terperanjatnya Adam melihat darah tertumpah ditanah membasahi bumi. Dadanya bergoncang, hatinya berdebar, Adam berteriak sekeras kerasnya kepada Qabil: "Qabil, apa yang engkau lakukan terhadap saudaramu?"
Bergetar tubuh Qabil mendengar teriakan bapanya yang luarbiasa itu. Alam seluruhnya dirasakan turut bergetar dan berteriak kepadanya: "Hai, Qabil ! Apa yang engkau lakukan terhadap adikmu sendiri?"
Qabil terus lari dan lari, dicelah gunung yang tinggi, melintasi jurang jurang yang dalam. Dengan hati yang penuh ketakutan, badan gemetar dan jiwa gelisah. Bukit, gunung, jurang, pohon dan binatang apa saja yang ia jumpai, seakan akan turut mengejar dari belakang dan benteriak teriak kepadanya: "Pembunuh, pembunuh, pembunuh."
Qabil lari dan lari tenus, tak dapat merasa ketenangan dan kesenangan buat selama lamanya. Dunia ini baginya sejak waktu itu adalah tempat pelarian dan ketakutan, kerana dia sendiri yang membuat dirinya diselubungi ketakutan, sehingga menyangka musuh terhadap apa saja yang ia jumpai dan temui. Begitu susahnya didunia ini, belum lagi dia di akhirat nanti.... !
Adam dan Hawa kehilangan dua orang anak sekaligus. Seorang meninggal dunia dan seorang lagi hilang tak tentu ke mana perginya. Terhadap yang sudah meninggal, Adam dan Hawa mendoakan kepada Allah: "Ya Allah, ampunilah dia; turunkanlah rahmatMu kepadanya di Alam Banzakh, dan berilah ia tempat di Syurga di Alam Akhirat nanti."
Terhadap anaknya yang hilang, Adam dan Hawa tak benputusasa, mudah mudahan dia dapat kembali dengan kesedaran dan keinsafan, dapat menginsafi segala kesalahan dan dosa yang telah diperbuatnya, akhirnya dapatlah ia menjadi manusia yang berguna hidupnya didunia ini bagi ibubapa dan adik adiknya. Terhadap anak anaknya yang lain, Adam memperingatkan bahawa kita manusia hidup dipermukaan bumi ini bukan sendirian. Disamping kita manusia ada Setan dan Iblis yang menjadi musuh kita sampai ke anak cucu dan keturunan kita buat selama lamanya.
Adam dan Hawa menerangkan kepada anak anaknya pengalaman hidupnya berdua selama berada di dalam Syurga, bagaimana hebat dan halusnya godaan Iblis. Sekalipun dikala itu, kerana sama sama berada dialam Syurga. Adam dan Hawa dapat melihat Iblis dan dapat mendengar suaranya, Adam dan Hawa masih dapat tergoda olehnya. Apalagi sekarang setelah berada dialam bumi, dimana kita manusia tidak dapat lagi melihat Iblis dan tidak dapat mendengar suaranya, sedangkan Iblis tetap dapat melihat kita manusia, maka godaan Iblis dimuka bumi ini pasti jauh lebih hebat dan jauh lebih merbahaya bagi kita manusia.
Iblis adalah musuh kita yang dapat melihat kita dan kita tidak dapat melihatnya. Dengan begitu perjuangan kita terhadap Iblis adalah perjuangan atau perkelahian yang tidak setaraf. Tidak ubah saperti penkelahian dua orang manusia: yang pertama dengan mata terbuka dan yang kedua dengan mata tertutup. Dapatlah kita pastikan, orang yang dengan mata terbuka akan selalu menang, dan orang yang dengan mata tertutup akan selalu kalah.
Tetapi kita manusia jangan sedih. Tuhan Maha Pengasih dan Maha Adil. Kepada kita manusia diberi Tuhan satu cara untuk membutakan mata Iblis terhadap kita, iaitu bila kita mohon perlindungan Allah dari godaan Iblis dengan membaca: "A'uzubillahi minasy Syaitanir Rajim." Dan kepada kita manusia diberi kekuatan yang dinamakan iman, iaitu kepercayaan penuh terhadap Allah. Dengan keimanan yang kukuh dan kuat, Iblis tidak sanggup menggoda manusia. Iblis malah menjadi takut dan lari dari manusia yang beriman itu. Iblis malah tidak berani mendekatinya.

Makna kata "KUN"
Bila Allah berkehendak untuk mengadakan atau menciptakan sesuatu, Allah hanya mengucapkan satu perkataan yang bersifat perintah, yaitu 'kun', yang artinya 'jadilah'. Dengan mengucapkan kata kata 'kun' itu, maka tercipta apa yang dikehendaki Allah.
Dengan cara begitu, maka terciptalah bumi dengan lautan dan daratannya, gunung tinggi dan jurang, lengkap dengan tumbuh tumbuhan dan segala jenis hewannya.
Terciptalah matahari dengan cahayanya yang terang benderang, bulan dengan sinarnya yang berkemilauan, dan bintang bintang dengan cahayanya yang gemerlapan. Semuanya beredar diangkasa raya dengan peredaran yang teratur, menurut sunnah (penetapan) Ilahi yang mencipta dan mengaturnya, tanpa cacat celanya.
Kemudian diciptakan Allah pula para Malaikat yang selalu patuh menjalankan segala perintah Allah yang menciptanya, mengerjakan ibadah dan tugas masing masing yang sudah ditetapkan Allah bagi mereka. Diantara mereka ada yang menjadi penjaga bumi, penjaga langit, menurunkan hujan, dan ada pula yang menjadi Pesuruh Allah, sebagai perantara antara Allah dengan makhlukNya. Dalam menjalankan berbagai tugas itu, mereka selalu bertasbih mensucikan Allah.
Setiap sesuatu yang kita lihat sekarang ini dahulunya belumlah ada, dahulu tidak ada manusia dan binatang, tidak ada tumbuh tumbuhan, tidak ada bumi matahari, bulan dan bintang. Dengan kodrat dan iradatNya Allah lalu menciptakan segala apa yang ada dan kita lihat sekarang ini.
Diciptakan Allah langit dan bumi dan apa yang terdapat antara keduanya didalam waktu enam hari. Hari yang bukan berarti siang dan malam seperti yang lazim kita pergunakan sekarang ini. tetapi yang berarti proses pertumbuhan atau masa, yang lamanya mungkin beribu ribu atau berjuta juta tahun lamanya

Bacaan Setelah Sholat Fardhu
Setelah Sholat fardhu sebaiknya kita membaca wirid/doa sehingga pahala kita bertambah banyak dan dosa-dosa kita insya allah diampuni. Selanjutnya apabila kita dipanggil olehNya, maka kita sudah bersih dari dosa-dosa dan dimasukkan ke dalam golongan yang beruntung yaitu yang mendapat surga (jannah) sebagai balasan dari Alloh SWT.

Wirid ini tergolong wirid panjang tetapi apabila kita baca setiap hari maka kita akan hapal dengan sendirinya.

Wiridnya adalah sbb:

Astaghfirullohhal adziim li wali wali dayya wali ashabil khuquq ala wal jamiil mu'minin wal mu'minat wal muslimiina wal muslimat al akhyaa 'i minhum wal amwaat (3x)
lebih kurang artinya : aku mohon ampun ya Alloh dzat yang Maha Agung, juga ampuni kedua orang tuaku dan orang-orang yang punya kewajiban pada aku, dan semua mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat yang hidup maupun yang sudah meninggal.

Laa Ilaaha Illalloh wahdahu laasyariikalah lahulmulku walahulhamdu yuhyii wayumiitu wahuwa alaa kulli syaiin qadiir (3x)
Tidak ada Tuhan selain Alloh, dzat yang Maha Esa (satu), tidak ada sekutu untukNya (tidak ada yang menyamai), dzat yang mempunyai kerajaan dan semua pujian. Dzat yang menghidupkan dan mematikan, dan berkuasa atas segala sesuatu.
Allohumma antassalam, waminkassalam, wa ilaika ya'uudussalam, fahayinaa Robbana bissalam, wa adkhilnal jannata darossalam, tabarokta Robbanaa wata a'laita yaa dzaljalali wal ikraam
Ya Alloh dzat yang mempunyai keselamatan, keselamatan adalah dari Engkau, dan keselamatan berpulang kepadaMU, dalam hidupku berilah keselamatan, masukkan aku kedalam sorga Darossalam, Tuhanku Engkaulah yang maha luhur dan maha agung, dzat yang maha luhur dan maha mulya.
Audzubillahiminassyaithonirrojiim, Bismillahirrohmanirrokhiim
teruskan dengan membaca : Al Fatehah , kemudian

Wa ilahukum ilahu wakhid , La ilaahailla huwarrohmaanurrokhiim
hai kamu semua, Tuhanmu itu hanya satu, tidak ada Tuhan selain 'Dzat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang'.
teruskan dengan membaca 'ayat Kursi' sebagaimana dibawah ini,

Allohu Laa iaaha illaa huwalkhoyyul qoyuum, laa ta' khudzuhuu sinatuw walaa naum, lahu maa fiissamaawaati wa maa fil ardhi, mandzaalladzii yasyfa'u 'indahuu illaa biidznih, ya'lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum, wa laa yukhithuuna bisyai'in min 'ilmihi illa bi maasyaaa'i, wasi'a kursiyyuhussamaawaati wal ardho, waa ya'uduhuu khifzuhumaa wahuwal a'liyul a'zhiim.

kemudian teruskan dengan beberapa ayat dari Al Qur'an dibawah ini,

Syahidallohu annahu La ilaa ha ila huwa walmalaikatu wa ulul ilmi qoiman bil qisthi La ilaa ha illa huwal aziizul hakiim

Inna diina i'ndallohil islam

Qulillohumma malikulmulki, tu'tilmulka man tasyaa', wa tanziulmulka miman tasyaa' wa tu'izu man tasyaa' wa tudzillu man tasyaa' biyadikal khoir Innaka alaa kulli syaiin qodiir. Tuulijullaila finnahaari wa tuulijunnaaharo fillaili, Wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijulmayyita minal hayyi, Wa tarzuqu man tasyaa' bi ghoiri hisaab

Subhanalloh (33x) , Alhamdulillah (33x) , Allohuakbar (33)

Allohu Akbar Kabiirau wasubhanallohi bukrotau waashiilla

La ilaaha illallohu wahdahuu la syariikalah lahulmulku wa lahulhamdu yuhyi wa yumiitu wahuwa alaa kulli syaiin qodiir

La khaula wala quwata illa billahil a'liyil aziim

Allohumma sholli wasallim alaa sayyidinaa Muhammad a'bdika wa rosuulika nabiyyil ummiyyi wa a'laa aalihii wa shohbihii wasallim

Wa hasbunaallohu wani'mal wakiil

La khaula wala quwata illa billahil a'liyil aziim, Astaghfirullohhal adziim

Doa

Alhamdulillahirobbil a'lamiin, hamdan yuuafii ni'mah wa yukafii maziidah
yaa Robbanaa lakalhamdu kamaa yanbaghi lijalali wajhikal kariim wa aziim sulthonik

Allohumma Sholli wasalim alaa sayidinaa Muhammad, sholatan tunjinaa bihaa min jami'il ahwaali wal afaat, wa taqdhilanaa bihaa min jami'il hajaat, wa tuthohirunaa bihaa min jami'is sayi'at, wa tarfa'unaa bihaa 'indaka a'laa ddarojaat, wa tubalighunaa bihaa aghsol ghoyat min jami'il khoirot fil hayaati wa ba'dal mamaati.

Allohumma inna nasa'luka luthfa fimaa jarot bihil maqoodiir

Allohumma inna nasa'luka min khoiri masa'alaka, minhu sayyidunaa wa nabiyyuna muhammad 'abduka wa rosuuluka, wa na'udzubika min syarri masta'adzaka, minhu sayyidunaa wa nabiyyuna muhammad 'abduka wa rosuuluka

Allohumma inna nasa'luka muujibaati rohmatika, wa azaa'ima maghfirotika,
wa ssaalamatan min kulli istmin, wal ghoniimatan min kulli birrin, wal fauza bil jannah, wan najaata mina nnaar, wal a'fwa 'indalhisaab

Robbanaa laa tuzig quluubanaa ba'da idz hadaitanaa wa hablana miladunka rohmah, innaka antal wahhaab

Robbanaghfirlanaa wali walidiina kamaa robayanaa shoghiiroo, wal jamiil mu'minin wal mu'minat wal muslimiina wal muslimat al akhyaa' i minhum wal amwaat

Robbanaa aaatinaa fiddunyaa khasanah, wa fil aakhiroti khasanah, wa qinaa 'adzabannaar.

Wa shollallohu alaa sayidinaa muhammad wa alaa aalihii wa shohbihii wa sallim, walhamdulillahi robbil 'alamiin.

Amiin.

KEUTAMAAN BERQURBAN
Hadits ke-1


“Tidak ada suatu amal yang dilakukan oleh
seseorang pada hari raya qurban yang lebih disukai
oleh Allah selain mengalirkan darah (menyembelih
hewan qurban). Dan sesungguhnya hewan itu akan
datang pada hari kiamat kelak dengan tanduk, bulu,
dan kukunya. Sesungguhnya qurban itu (lebih
cepat) diterima oleh Allah sebelum darahnya
mengalir ke tanah. Karena itu, hendaklah kalian
berqurban dengan jiwa yang sebaik-baiknya (jiwa
yang ikhlas).” (Hr. Tirmidzi dan Hakim dari Aisyah
r.ha. Menurut Tirmidzi hadits ini hasan – al-
Jaami’ush Shaghiir: 11/147)
Tirmidzi juga meriwayatkan dari Nabi saw.
bahwasanya beliau bersabda, “Bagi orang yang
berqurban akan memperoleh satu kebaikan dari
setiap helai bulu hewan qurbannya.” Hadits serupa
juga telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Hakim,
dan perawi lainnya dari Aidzullah dari Abu Dawud
dari Zaid bin Arqam, katanya, “Beberapa orang
sahabat Rasulullah saw. pernah bertanya, ‘Wahai
Rasulullah, apakah maksud hewan-hewan qurban
ini?’ Beliau bersabda, ‘Qurban ini adalah sunnah
ayah kalian, Ibrahim a.s.’ Mereka bertanya lagi,
‘Kalau begitu, apakah bagian untuk kami dari
qurban- qurban itu?’ Rasulullah saw. bersabda,
‘Dari setiap helai bulu hewan itu ada satu kebaikan
(pahala).’ Para sahabat bertanya lagi, ‘Dari setiap
helai bulu?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Dari setiap
helai bulu hewan itu ada satu kebaikan (pahala)’.”
(Berkata Hakim, “Hadits ini shahih isnadnya.” - at
Targhiib 11/154)

Hadits ke-2


Dari Ibnu Abbas r.huma berkata, Rasulullah
saw. bersabda pada huri Iedul Adha, “Tiada amal
yang dilakukan seseorang pada hari raya Adha
yang lebih utama daripada mengalirkan darah
(menyembelih hewan qurban), kecuali menyambung
silaturuhmi.” (Hr. Thabrani dalam al-Kabiir)

Hadits ke-3




Dari Abu Said ra. berkata, Rasulullah saw.
bersabda, “Wahai Fatimah, bangkitlah dan
saksikanlah qurbanmu! Karena sesungguhnya pada
tetesan pertama darahnya akan nienjadi ampunan
bagimu dari setiap dosa yang telah engkau
lakukan.” Fatimah r.ha bertanya, “Wahai
Rasulullah, apakah hal ini khusus bagi kita, ahli
bait, atau bagi kita dan kaum muslimin pada
umumnya?” Beliau menjawab, “Hal ini berlaku
bagi kita dan bagi kaum muslimin pada umumnya.”
(Hr. al-Bazzar dan Abu Syaikh bin Hibban dalam
Kitabudh Dhahaayaa).

Hadits ke-4


Dari Ali ra., dari Nabi saw., beliau bersabda,
“Wahai sekalian manusia, berqurbanlah dan
berharaplah pahala kepada Allah melalui tetesan
darahnya! Karena pabila darah itu jatuh menetes ke
tanah, maka sesungguhnya ia telah jatuh ke dalam
perlindungan Allah ‘Azza wajalla.” (Hr. Thabrani
dalam al-Awsath – at-Targhib II/155)

Hadits ke-5


Diriwayatkan dari Husain bin Ali r.huma,
bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa
berqurban dengan senang hati (ikhlas) dan berharap
pahala kepada Allah dari qurbannya itu,
niscaya ia akan menjadi penghalang baginya dari
api neraka.” (Hr. Thabrani dalam al Kabiir)

Hadits ke-6


Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.huma,
Rasulullah saw. bersabda. “Tiada dirham yang
diinfakkan untuk sesuatu yang lebih disukai Allah
daripada hewon qurban yang disembelih pada hari
raya (Adha).” (Hr. Thabrani dalam al-Kabiir dan al
Ashbahani)

Hadits ke-7


Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw.
bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan
(untuk berqurban). tetapi ia tidak berqurban,
maka janganlah ia menghampiri tempat shalat
kami.” (Hr. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim
menshahihkannya. - Ibaanatul Ahkaam Syarh
Buluughul Maraam: IV/219)

HIKMAH (MANFAAT) BERQURBAN

Ibadah qurban mengandung beberapa hikmah
yang dapat kita petik, di antaranya:
1. Taqarrub ilallaah (mendekatkan diri kepada
Allah)
2. Mengikuti millah (sunnah) Nabi Ibrahim a.s.
yang memang diperintahkan oleh Allah Swt.
dan Rasul-Nya saw..
3. Memupuk sikap syukur akan nikmat dan
karunia Allah Swt. yang telah banyak dikaruniakan-
Nya kepada kita.
4. Memupuk sikap rela berkorban demi menegakkan
agama Allah dan sunnah-sunnah
Rasulullah saw..
5. Memupuk sikap peduli dan kasih sayang
terhadap orang-orang lemah yang ada di
sekelilingnya.

SYARI'AT ISLAM TENTANG UDHHIYAH (QURBAN)
DEFINISI UDHHIYAH (QURBAN)
Udhhiyah atau qurban adalah menyembelih
hewan ternak seperti unta, sapi, domba atau
kambing yang dilaksanakan pada hari raya Iedul
Adha dan tiga hari setelahnya (hari-hari Tasyriq).
Penyernbelihan itu dilakukan dengan niat untuk
taqarrub ilallaah (mendekatkan diri kepada Allah).
HUKUM BERQURBAN
Sebagian ulama berpendapat bahwa qurban
adalah wajib bagi orang yang telah mampu.
Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat
bahwa qurban adalah sunnah muakkadah.
Di antara ulama yang berpendapat bahwa
qurban itu wajib ialah Imam Abu Hanifah rah.a..
Katanya, “Qurban itu wajib bagi orang yang muqim
(tinggal di tempatnya), dan tidak wajib bagi orang
yang sedang bepergian.” (Bidayatul Mujtahid :
1/314).
Dalil yang menjadi pegangan Imam Abu
Hanifah adalah firman Allah Swt.:

“Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu, dan
berqurbanlah!” (Qs. al-Kautsar [108] ayat2)

Dan hadits yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda:


“Barangsiapa yang mempunyai kemampuan
(untuk berqurban), tetapi ia tidak berqurban. maka
janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.”
(Hr. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim menshahihkannya
- lbaanatul Ahkaam Syarh Buluughul
Maraam: IV/219)
Adapun Imam yang tiga (Imam Malik, Imam
syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal) serta Jumhur
ulama berpendapat bahwa qurban adalah sunnah
muakkadah. Mereka menolak pendapat Imam Abu
Hanifah dengan alasan:
Pertama, surat al-Kautsar ayat 2 tidak
menunjukkan bahwa qurban itu wajib, tetapi
menerangkan waktu pelaksanaan qurban yaitu harus
dilakukan setelah shalat Iedul Adha.
Penafsiran ini dikuatkan oleh sebuah hadits
yang diriwayatkan dari Anas r.a. bahwasanya Nabi saw. pernah menyembelih qurban sebelum shalat
(Ied), maka beliau diperintahkan supaya melakukan
shalat dulu, baru setelah itu menyembelih qurban.
Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad
dan Ibnu Majah, “Barangsiapa yang mempunyai
kemampuan (untuk berqurban), tetapi ia tidak
berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat
shalat kami.” Hadits tersebut adalah mauquf
menurut para imam hadits, oleh karena itu tidak bisa
dijadikan hujjah (alasan) tentang wajibnya qurban.
Kemudian mereka mengemukakan dalil-dalil
sebagai berikut:
(1) Hadits marfu’ yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim dari Ummu Salarnali r.ha:


“Apabila telah masuk tanggal 10 (Dzulhijjah),
lalu salah seorang dari kamu menginginkan untuk
berqurban, maka janganlah ia mengambil sesuatu
pun dari rambut dan kulitnya.”
Menurut asy-Syafi’i kata ‘...fa araada
ahadukum...’ (lalu salah seorang kamu menginginkan...
) adalah menunjukkan bahwa qurban itu
bukan wajib.
(2) Hadits shahih yang diriwayatkan dari at Bares
bin Azib r.a. katanya, “Rasulullah saw. pernah
berkhutbah di depan kami pada hari qurban. Sabda
beliau, ‘Sesungguhnya pertama kali kami memulai
hari kami ini (hari qurban) adalah kami shalat (Ied)
terlebih dahulu, kemudian kami pulang, lalu kami
menyernbelih qurban. Siapa yang melakukan
demikian, maka sesungguhnya ia telah menepati
sunnah kami.”
(3) Riwayat yang shahih dari Abu Bakar dan Umar
r.huma bahwasanya keduanya tidak melakukan
qurban karena khawatir hal itu dianggap fardhu oleh
orang-orang. (Shahih menurut Imam Baihaqi -
Ibaanatul Ahkaam Syarh Buluughu/Maraam:
IV/221)

TRADISI QURBAN PADA BANGSA MESIR KUNO
Bangsa Mesir kuno termasuk bangsa yang
berlebihan dalam hal qurban. Mereka berqurban
tidak saja dengan hewan, tetapi yang dijadikan
qurban adalah manusia. Menurut riwayat, bangsa
Mesir kuno setiap tahun mempersembahkan seorang
gadis untuk dikorbankan di sungai Nil, dengan
tujuan supaya airnya selalu melimpah. Sebelum
dikorbankan, biasanya gadis itu dihias dan
didandani, lalu dilemparkan ke sungai. Akan tetapi
setelah Amr bin ‘Ash berhasil menaklukan Mesir,
dan beliau menjadi gubernur di sana, maka tradisi
mengorbankan gadis ini dilarang. Karena hal itu
bertenatangan dengan ajaran Islam.

PERISTIWA PENYEMBELIHAN TERULANG KEMBALI
Peristiwa seperti penyembelihan Ismail oleh
Ibrahim a.s. berulang kembali pada zaman Abdul
Muthalib yang menimpa Abdullah, ayahanda
Rasulullah saw.. Itulah sebabnya Abdullah diberi
gelar ‘Ibnu Dzabihain’ (putera dari dua orang
penyembelih). Ceritanya sebagai berikut:
Pada suatu malam Abdul Muthalib mimpi
rnendapat perintah untuk menggali kembali sumur
Zamzam, yang pada waktu itu telah tertimbun tanah
akibat perlakuan Jurhum. Abdul Muthatib, berniat
untuk melaksanakan mimpinya, tetapi ternyata
dihalangi oleh kaum Quraisy. Oleh karena itu dia
bernadzar, jika dia mempunyai sepuluh orang anak
dan dia dapat melaksanakan mimpinya, maka dia
bernadzar untuk mengorbankan salah seorang
anaknya. Ternyata keinginan Abdul Mutahalib,
untuk menggali kembali sumur Zamzam terlaksana
dan permohonannya memiki sepuluh orang anakpun
dikabulkan Allah. Ketika kesepuluh anaknya itu
dikumpulkan, dan sesuai dengan nadzarnya, dia
akan menjadikan salah seorang dari mereka sebagai
qurban. Ternyata anaknya yang bungsu menyatakan
kesiapannya untuk dijadikan qurban sebagai
pelaksanaan nadzar ayahnya. Meskipun demikian,
Abdul Muthalib bertindak bijaksana, dia tidak
langsung menunjuk Abdullah, tetapi dia menentukannya
dengan cara diundi. Ternyata setiap kali
dilakukan pengundian, selalu saja jatuh kepada
Abdullah. Akhirnya dengan sungguh-sungguh
Abdul Muthalib mengambil pisau dan segera
merebahkan tubuh Abdullah ke tanah sambil
kakinya menginjak leher Abdullah. Ketika itu anakanaknya
yang lain pun menyaksikan saudaranya
yang akan disembelih. Tiba-tiba datanglah Abbas
dan segera menarik kaki Abdul Muthalib dari leher
Abdullah, sehingga Abdullah sempat tergores pisau
ayahnya, dan akibat goresan pisau itu telah
menimbulkan bekas di wajah Abdullah sampai
wafatnya. Karena kegagalannya menyembelih
Abdullah sebagai qurban akibat protes dari saudarasaudaranya,
maka Abdul Muthalib mengurungkan
niatnya mengorbankan Abdullah. Kemudian sebagai
gantinya, jiwa Abdullah ditukar dengan 100 ekor
unta.