Jumat, 24 Desember 2010

Jumat, 24 Desember 2010

KEUTAMAAN KALIMAT LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
Pada suatu hari khalifah Al-Ma’mun mencetakkan uang lima ratus
dirham pada seorang Nasrani. Setelah jadi, ia pun menyuruh seseorang untuk
mengambilnya. Namun dalam perjalanan pulang utusan dan orang Nasrani
itu melihat seseorang yang sedang memikul rumput. Rumput yang
dipikulnya itu sesekali miring ke kanan dan sesekali miring ke kiri. Apabila
dibetulkan yang kiri, akan miring ke kanan; sebaliknya apabila dibetulkan
yang kanan, maka miring ke kiri. Orang itu pun kesal dan berkata, “Laa
haula wala quwwata illaa billaah.” Ketika mendengar kalimat tadi, orang
Nasrani menganggap bahwa kalimat tersebut agung dan mulya. Bertanyalah
utusan Al-Ma’mun, “Sekiranya kamu menganggap mulya kalimat itu,
mengapa kamu tidak beriman?” Nasrani menjawab, “Sesungguhnya aku
telah mempelajari kalimat itu dari Malaikat langit.” Mendengar pernyataan
itu, heranlah sang utusan. Ketika keduanya telah sampai di hadapan khalifah
Al-Ma’mun, maka sang utusan menceritakan tentang orang Nasrani tadi.
Khalifah bertanya, “Bagaimana kamu mempelajari kalimat itu dari
Malaikat?” Orang Nasrani pun bercerita, “Dulu aku mempunyai seorang
paman yang kaya raya dan dia memiliki anak perempuan yang sangat cantik.
Lalu saya melamar puterinya, tetapi ia tidak mau menikahkanya denganku,
bahkan ia menikahkannya dengan orang lain. Ketika malam pertama
suaminya mati. Aku pun kembali melamarnya, tetapi ia tetap tidak mau
menikahkannya denganku, bahkan dinikahkan dengan lelaki lain. Ketika
malam pertama tiba, lagi-lagi pengantin lelakinya mati. Aku pun melamarnya
untuk yang ketiga kali. Namun kejadiaanya sama seperti yang pertama dan
kedua. Aku pun kembali melamarnya untuk yang keempat kali, karena sudah
tidak ada yang menyukai puterinya itu disebabkan kejadian-kejadian yang
sudah, akhirnya pamanku pun menikahkannya denganku. Ketika aku hendak
memasuki kamar pengantin, aku dihadang syetan, berbentuk seutas tali
sambil berteriak, ia bertanya, “Hendak kemana kamu?” “Aku hendak ke
kamar pengantinku,” jawabku. Syetan itu bertanya lagi, “Apakah kamu tidak
tahu apa yang aku lakukan terhadap suami-suaminya terdahulu?” “Ya, aku
tahu,” jawabku. Syetan berkata lagi, “Kalau kamu setuju, tiap malam istrimu
bersamaku, dan siang bersamamu, maka kamu akan hidup; bila tidak maka
kamu akan mati.” “Ya, ya aku setuju,” jawabku. Demikianlah untuk
beberapa lamanya hal itu berlangsung. Sehingga pada suatu malam
berkatalah syetan itu padaku, “Malam ini aku ingin pergi ke langit untuk
mencuri berita dari langit, dan malam ini adalah giliranku, maukah kamu
menemaniku ke langit?” Aku menjawab, “Ya, aku mau menemanimu.” Lalu
syetan berubah bentuk seperti onta, dia menyuruhku naik di atas
punggungnya. Aku pun menaikinya dan berpegang erat, lalu ia terbang ke
angkasa. Ketika di angkasa kami mendengar para Malaikat mengumandangkan
Hauqalah (Laa haula walaa quwwata illaa billaah). Ketika syetan
mendengar kalimat tersebut, syetan itu jatuh kembali ke bawah dan saya juga
jatuh di sisinya. Setelah beberapa saat, syetan itu kembali sadar, lalu ia
menyuruhku untuk memejamkan mata, akupun menurutinya. Ketika aku
membuka mataku, ternyata aku sudah berada di depan rumahku. Ketika aku
sedang berduaan dengan istriku di kamarku, aku berkata padanya, “Tutuplah
semua lubang dan jendela di rumah ini!” Istriku pun melaksanakan
perintahku. Ketika waktu isya tiba, syetan itu datang dan akan memasuki
rumah. Maka aku segera mengunci pintu rumah dan mendekatkan mulut saya
pada daun pintu sambil membaca Hauqalah. Satelah aku mengucapkan
kalimat itu, terdengarlah jeritan yang sangat keras. Aku mengucapkan
kalimat itu untuk kedua dan ketiga kalinya. Tiba-tiba istriku memanggil dan
bercerita, “Ketika kamu mengucapkan kalimat itu pertama kali, syetan itu
berlarian mencari jalan keluar; ketika kamu mengucapkanya yang kedua kali
datanglah api dari langit mengurungnya; ketika kamu mengucapkannya
untuk yang ketiga kalinya, api itu membakar dan menjadikannya abu.”
Sehingga terbebaslah kami dari syetan itu. Mendengar cerita orang Nasrani
tadi khalifah Al-Ma’mun tertegun, lalu ia melepas dan memberinya upah atas
pekerjaannya mencetak uang. Walahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar